fbpx

Tato Suku Mentawai, Seni Rajah Tertua di Dunia

16 Juli 2021 | Seni

Suku Mentawai dari Sumatra Barat adalah suku yang memiliki tradisi tato dan telah menjadi identitas. Biasanya tato memenuhi tubuh mereka dari kepala hingga kaki.

Tidak sembarang tato, setiap motif yang dilukiskan di badan mereka memiliki filosofi tertentu. Tidak hanya itu, tato milik suku Mentawai ini memiliki umur yang sudah lama sekali bahkan menjadi yang tertua di dunia. Bagaimana ceritanya?

Seni tato atau disebut juga seni rajah dalam suku Mentawai pertama kali ditemukan dalam catatan tulisan James Cook di tahun 1769. Encyclopaedia Britanniica sendiri mencatat tato tertua ditemukan pada mumi di Mesir (1300 SM).

Namun, Suku Mentawai dikenal sebagai bangsa Proto Melayu yang datang dari daratan Asia atau Indocina yaitu Yunan pada zaman logam tahun 1500 SM-500 M. Dalam seni budaya dongson di Vietnam ditemukan kemiripan tato Mentawai.

Tidak hanya itu, motif serupa ditemukan pada beberapa suku di suku Rapa Nui di Kepulauan Easter, beberapa suku di Hawaii, Kepulauan Marquess, dan suku Maori Selandia Baru. Oleh karena itu, berdasarkan catatan tersebut tato Mentawai disimpulkan sebagai tato tertua di dunia.

Baca Juga:  Pameran Seni Rupa ARTJOG 2021 Telah Dibuka

Tato memiliki makna filosofis mendalam bagi masyarakat Suku Mentawai. Ada beragam motif yang dilukiskan pada tubuh mereka. Fungsi dan makna tato bagi Suku Mentawai yakni untuk menunjukkan jati diri dan menunujukkan perbedaan status sosial atau profesi.

Selain sebagai identitas status sosial, tato berfungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Benda dan makhluk seperti batu, tumbuhan, dan hewan harus diabadikan ditubuh mereka karena mereka percaya bahwa semuanya memiliki jiwa.

Motif-motif tato juga menjadi penegasan untuk penyebaran orang Mentawai. Ada perbedaan antar wilayah. Di daerah Siberut hampir sama tatonya dengan Sarereket karena sungai Siberut berhulu di Sarereket. Sedangkan di daerah Saibi tatonya sama dengan Simatalu, Siberut Barat karena sungainya berhulu dari sana. Perbedaannya sendiri mengikuti hulu sungai karena pemukiman Mentawai didirikan di lembah sepanjang sungai.

Penatoan dalam suku Mentawai ada tiga tahap. Pertama, saat usia sudah 11-12 tahun dan ditato di bagian pangkal lengan. Kedua, berusia 18-19 tahun dan ditato di area paha, dan ketiga, usia lebih dari 19 tahun dianjutkan pola durukat di bagian tulang rusuk bagian dada, titi takep atau telapak tangan, Titi Rere atau kaki bagian paha dan kaki, serta Titi puso atau pusar di bagian perut. Setelah itu dilanjutkan hingga seluruh tubuh.

Baca Juga:  Studio Ghibli Terancam Bangkrut Karena Pandemi

Untuk anak-anak yang menginjak usia 11-12 tahun, orangtua mereka akan memanggil sikerei dan rimata (kepala suku). Setelah itu akan dirundingkan hari dan bulan untuk pelaksanaan penatoan. Saat hari dan bulan sudah ditentukan, kemudian memilih sipatiti atau seniman titi (tato).

Alat-alat yang digunakan untuk menato semuanya tradisional. Seperti lidi yang digunakan untuk menggambar. Kemudian jarum biasanya terbuat dari tulang hewan atau kayu karai yang sudah diruncingkan. Sedangkan untuk zat perwarna dibuat dengan tebu dan arang tempurung kelapa.