banner

Superstrata Ion, Sepeda yang Diproduksi dengan Teknologi 3D Printing

23 Juli 2020 | Gaya Hidup
Superstrata Ion

Semasa pandemi, bersepeda menjadi sesuatu yang kembali diminati oleh masyarakat Indonesia.

Jenis sepeda yang digunakan pun variatif, mulai dari ukuran, jenis, warna hingga harga. Tapi pernahkah kamu terpikir untuk mengendarai sepeda unibody seharga US$4.000 (sekitar Rp57,5 juta) ke kantor?

Superstarata Ion adalah nama sepeda tersebut. Harga sepeda ini hanya bisa disaingi sepeda eksklusif edisi terbatas seperti beberapa jenis Brompton. Ada hal yang unik soal Superstrata Ion. Rangka badan sepeda ini diproduksi dengan memanfaatkan teknologi mesin cetak tiga dimensi (3D printer).

Bahan utamanya adalah serat karbon dan ukurannya dapat disesuaikan produsen terhadap ukuran tubuh pembelinya. Hal mengejutkan lainnya adalah, ternyata Superstrata Ion masih jauh lebih murah dari sepeda lainnya yang dirakit dari serat karbon yang bisa dijual dengan harga mencapai US$12.000 (Rp173,4 juta).

Merk Superstrata menawarkan dua model sepeda unibody : Ion dan Terra, model sepeda standar dengan harga US$2.800 (Rp40,4 juta). Meski demikian, keduanya belum benar-benar ada di pasaran.

Superstrata menjual sepeda mereka secara prapesan lewat sebuah campaign di Indiegogo, sebuah platform crowdfunding untuk pendanaan produksi mereka, dibantu dengan Sonny Vu, pendiri Alabaster/Misfit. Saat ini total dana yang dikumpulkan Superstrata telah mencapai lima kali lipat dari total dana awal yang mereka targetkan, yakni US$100.000 atau sekitar Rp1,4 miliar. 

Superstrata mengklaim jika sepeda unibody dengan rangka yang dicetak secara 3D memiliki beberapa keunggulan, diantaranya ukuran rangka yang dapat disesuaikan khusus untuk penggunanya.

Sepeda unibody rakitan biasanya akan memproduksi 18 jenis ukuran rangka untuk menyesuaikan diri dengan permintaan pasar. Di samping itu, desain sepeda ini juga lebih kuat, namun juga lebih ringan.

Superstrata bukan startup biasa yang bergerak di bidang produksi sepeda, tetapi juga merupakan brand yang dinaungin Arevo, perusahaan yang sempat mencuri perhatian publik saat mereka menggunakan teknologi 3D printing mereka untuk mencetak sawah di Vietnam.

“Gagasan utama kami bukan hanya sekedar mencetak sesuatu dan mengatakan kepada semua orang ‘lihat apa yang mampu kami perbuat’, tetapi juga tentang membangun produk tersebut dari awal, mulai dari penentuan nama, warna, merk, jenis huruf, desain industri, user experience — segalanya, B ke C (business to consumer),” tutur Sonny Vu dalam wawancaranya dengan TechCrunch.

Vu optimis jika konsumen mereka di masa mendatang akan tertarik saat mereka mengetahui bagaimana dan betapa cepatnya Superstrata dapat diproduksi. Vu mengatakan, proses mulai dari desain di meja gambar hingga ke purwarupa yang siap produksi hanya memakan waktu dua bulan. Sebagian besar waktu itu digunakan untuk mendesain dan proses pencetakan yang membutuhkan banyak penyesuaian di antara tiap-tiap sepeda.

Hal menarik lainnya tentang sepeda buatan Superstrata adalah, sepeda ini tidak didesain dengan sistem “tertutup”, sehingga pengguna sepeda ini dapat melakukan penyesuaian lanjutan secara pribadi jika mereka ingin menambahkan komponen sepeda lain ke sepeda Superstrata yang mereka punya.