fbpx

Sound of X: Menghidupkan Memori Bebunyian Kenyamanan di Jakarta

17 Juli 2021 | Seni

Goethe-Institut telah merilis video bunyi lingkungan (soundscape) terbarunya berjudul Invisible Comfort. Video soundscape ini adalah kreasi Lie Indra Perkasa (komposer) dan John Navid (pemain drum dan perkusi White Shoes & the Couples  Company) dalam rangka menghidupkan kembali bebunyian kenyamanan yang hilang di Jakarta. Karya mereka dapat ditonton di kanal YouTube Goethe-Institut Indonesien. 

Invisible Comfort adalah bagian dari proyek digital internasional Sound of X, sebuah  inisiatif dari Goethe-Institut yang pertama kali diluncurkan pada tahun 2020. Sound of  X menampilkan latar bebunyian sebuah kota yang sering diabaikan. Menggunakan  suara, kebisingan, dan akustik, seniman dan musisi dari berbagai negara mengeksplorasi lingkungan sonik masing-masing dalam rangka mengusulkan cara unik  untuk memulihkan hubungan dengan kota dan ruang yang kita diami, khususnya  dalam masa pandemi COVID-19. 

“Kami bersemangat dengan adanya proyek Sound of X dan kami merasa seseorang  harus menciptakan sesuatu yang unik sebagai representasi kehidupan di Jakarta. Indra  Perkasa dan John Navid adalah duo yang tepat untuk melakukan hal itu, karena  mereka sama-sama berhasrat menyampaikan cerita mengenai Jakarta dan bahkan  sempat berencana mengerjakan proyek serupa. Kami berharap penonton dapat  berpaling sejenak dari rutinitas mereka selama isolasi dan terhubung kembali dengan  Jakarta melalui video pendek ini. Lokasi-lokasi pilihan Indra dan John untuk  pengambilan gambar dalam rangka memperlihatkan berbagai wajah Jakarta sungguh  memukau,” kata Elizabeth Soegiharto, koordinator program Goethe-Institut  Indonesien, Jumat (16/7/2021). 

Baca Juga:  Artist Talk: Ykha Amelz

Konsep Invisible Comfort mengacu kepada semua hal di Jakarta yang sudah jarang terlihat, namun memberi kenyamanan. “Bagi sebagian besar orang, kehidupan di kota  besar seperti Jakarta melulu diisi dengan bekerja. Melarikan diri dari rutinitas sulit  dilakukan, sehingga kenyamanan dari keseharian pun terlupakan. Saat menggarap  proyek ini, satu hal yang kami temukan ialah rasa nyaman yang kita kenal di masa lalu  sebenarnya masih ada, tersembunyi di depan mata. Kita mungkin tidak selalu  menyadarinya, tapi kita masih bisa mendengarnya di tengah kerumunan orang, di sela-sela rutinitas,” ucap Indra, komposer dalam video soundscape ini. 

Untuk mencari suara kenyamanan yang hilang, Indra dan John merekam suara-suara  dan membuat video di semua penjuru Jakarta selama lebih dari 2 minggu pada bulan  Mei 2021. John, selaku Director of Photography proyek ini, menambahkan, “Kami  mengunjungi semua kota administrasi di Jakarta dan mengeksplorasi Pasar Malam  Cengkareng, Rumah Duka Jelambar, Glodok, Pasar Senen, Pasar Poncol, dan banyak  tempat lagi. Selama proyek ini, kami mendatangi lebih banyak sudut-sudut Jakarta dari  yang pernah kami datangi dan kami banyak menemukan hal-hal baru.”  

Baca Juga:  Banksy Rilis Instalasi Gross Domestic Product di Croydon, Inggris

Eksplorasi mereka disajikan dalam video soundscape berdurasi lima setengah menit  yang berisi suara-suara keseharian yang memikat, mulai dari suara klakson kereta api,  derit rel, orang berkaraoke, hingga berbagai suara yang terkait dengan jajanan  jalanan—jingle dan suara lainnya yang digunakan penjual untuk menarik pelanggan  serta suara saat proses pembuatan makanan berlangsung.

Suara khas jajanan jalanan menjadi elemen penting dalam proyek ini untuk  memperlihatkan kenyamanan yang hilang versi Indra dan John. Karena sama-sama  besar di Jakarta, keduanya mempunyai kenangan manis mengenai jajanan jalanan  berikut suara khasnya, seperti bunyi melengking yang terdengar dari gerobak kue  putu, denting suara sendok beradu mangkok kecil berisi sekoteng, sampai bunyi tuk tuk-tuk dari kentungan bambu tukang bakso keliling. 

Untuk proyek ini, Indra bereksperimen dengan Walkman untuk membuat tape loops.  Ia menjelaskan bahwa beberapa rekaman suara seperti penjual tahu bulat dan jingle es krim Miami disampel lewat pita kaset lama untuk membuat tape loops, dan  kemudian diproses lebih lanjut. Indra menambahkan, “Saya melakukannya karena  merasa ini cocok dengan tema proyeknya, yaitu membuat efek berulang. ini juga  menggambarkan proses kehidupan urban di mana segala sesuatu dalam hidup itu  berulang.”