fbpx
banner

Sisi Lain Pro Gamer di Indonesia: Selain Harus Jago, Juga Harus Cantik

27 Juli 2020 | Gaya Hidup
Pro Gamer/Rachel Florencia
Rachel Florencia

Tahun-tahun pertama Monica Carolina menekuni profesi sebagai gamer profesional (pro gamer) dan bertanding di berbagai kompetisi, dia sudah sering menghadapi orang-orang yang meragukan kemampuan perempuan dalam bermain game, apalagi di genre First Person shooter (FPS).

Terjun ke kompetisi sejak 2008, ia juga sering mendengar cerita yang sama dari perempuan sesama gamer, padahal dalam segi kemampuan perempuan tidak kalah andal.

“Sepuluh tahun lalu sebetulnya sudah banyak gamer perempuan dan jago-jago banget, tapi tidak saling terhubung satu sama lain. Ketika mau ikut kompetisi secara tim, mereka enggak ada pilihan, cuma ada teman-teman cowok yang kemungkinan besar enggak mau ngajak perempuan karena menganggap perempuan enggak jago,” ujar perempuan berusia 30 tahun yang akrab dipanggil Nixia itu kepada Magdalene (19/7).

Berangkat dari pengalaman-pengalaman tersebut, Nixia membentuk tim perempuan bernama NXA Ladies pada 2011. Awalnya hanya ada empat orang, tapi kemudian berkembang menjadi 15 orang dengan divisi game yang beragam.

“Di awal terbentuk, kami fokus pada game-game personal computer (PC), dengan genre FPS seperti Counter Strike: Global Offensive (CS:GO), Overwatch, dan Call of Duty,” ujarnya.  

NXA Ladies kemudian sukses membungkam komentar seksis dan miring soal gamer perempuan dengan memenangkan berbagai macam kompetisi, termasuk juara 1 CS:GO dalam acara MSI Gaming Night di Taipei, Taiwan (2013), dan juara 4 CS:GO dalam kompetisi Indonesia GAme Show (2014).  

Selama sembilan tahun membangun NXA Ladies, Nixia mengatakan banyak sekali tantangan dalam membantu teman-teman perempuan untuk berkembang. Dari segi latihan, seperti tim profesional pada umumnya, Nixia menetapkan porsi latihan 8 jam sehari. Tapi hal ini sulit terutama karena beban ganda perempuan.

“Ada beberapa anggota yang akhirnya memilih untuk mengurus keluarga terlebih dahulu, ada juga yang memutuskan berkarier di bidang lain,” ujarnya.

Dari jumlah anggota 15 orang, akhirnya hanya tersisa lima orang dalam NXA Ladies. Pada Februari 2019, dengan berat hati, karena agak sulit merekrut anggota baru, akhirnya Nixia memutuskan untuk vakum dan mengistirahatkan tim NXA Ladies untuk sementara waktu.   

“Aku mulai agak kesusahan merekrut teman perempuan yang bisa latihan delapan jam sehari, lalu harus ikut turnamen minimal sebulan sekali. Sedangkan ketika kita mau fokus menjadi pemain pro dan berkompetisi itu kan perlu latihan terus, enggak bisa bolong-bolong. Jadinya ya kita vakum dulu, deh,” ujarnya.

Baca Juga:  Punk Muslim: Idealisme Berbalut Agama

Stigma, pelecehan

Data 2019 dari Newzoo, perusahaan riset pasar untuk sektor olahraga elektronik atau e-sport, jumlah perempuan pemain game internet hampir sama dengan gamer laki-laki. Untuk permainan ponsel, pemain perempuan mencapai 70% dan laki-laki 74%, sedangkan untuk game PC mencapai 67% laki-laki dan 59% perempuan.

Namun di ranah profesional, jumlah pro gamer perempuan tidak sebanyak laki-laki, meski tidak ada data statistik resmi. Menurut virtual ethnographer Arief Rahadian, hal ini akibat hambatan kultural dan stigma dalam masyarakat. 

“Meskipun terlihat kompetisinya sama, tetapi hambatan-hambatan itu ada. Perempuan masih mendapatkan stigma ketika bermain game, lalu mereka sering sekali mendapat pelecehan ketika bermain game. Hal ini yang menjadi hambatan-hambatan tidak terlihat yang membuat perempuan tidak leluasa mengembangkan kemampuannya,” ujar Arief, yang bekerja di lembaga riset Co.Think Research Agency, yang berfokus pada isu anak muda dan riset pasar.

Kondisi ini dihadapi oleh dua anggota tim perempuan e-sport Celestego, July Kusuma dan Ryona Shannen Tan. Bagi Shannen, mendapat komentar-komentar norak dan melecehkan dari laki-laki ketika main game sambil live streaming adalah hal yang lumrah terjadi.

“Ada aja komentar seperti, ‘Kak boleh minta nomor HP enggak’, ‘Kak Chinese ya’. Duh banyak banget. Kesel memang, tapi aku anggap saja enggak ada,” ujar Shannen, 20, kepada Magdalene (21/7).

Bukan hanya dari penonton, sesama pemain yang laki-laki juga suka menggoda mereka.

“Waktu itu pas lagi main, tiba-tiba cowok enggak dikenal langsung nembak, ‘Mau jadi cewek gua enggak?’. Makanya kadang saya suka bilang saya ini bocah laki-laki, kan suaranya agak mirip tuh. Mereka kadang percaya,” kata July, 26.

Shannen mengatakan perlakuan itu langsung berubah drastis menjadi sangat kasar ketika mereka sedang bermain tidak bagus dan menghambat pemain lain. Kondisi-kondisi seperti ini yang membuat Shannen lebih nyaman bermain bersama teman-teman yang ia kenal ketimbang bermain sendirian.

“Padahal ya kita lagi main agak jelek saja hari itu, tetapi kalau tahu kita cewek langsung deh, dimaki, ‘Lu cewek balik sana main Barbie’,” ujarnya.

Arief mengamati, saat kompetisi pun para komentator yang bertugas terkadang melontarkan ujaran seksis.

“Bahkan dalam kompetisi, lagi-lagi penampilan si perempuan suka disebut-sebut sama komentatornya. Ada juga ujaran-ujaran yang memang sama sekali tidak sensitif terhadap perempuan,” ujarnya.  

Standar ganda

Selain dituntut harus memiliki kemampuan yang jago, Shannen dan July merasa ada tuntutan yang lebih terhadap perempuan dalam segi penampilan mereka. Menurut Shannen, dalam ranah profesional, pemain perempuan masih lebih banyak diandalkan untuk melakukan branding.

“Mungkin mereka pikir, karena ladies tournament juga enggak sebanyak turnamen umum. Daripada mereka enggak ngapa-ngapain ya sudah streaming sambil main game dan endorse barang sponsor saja. Ya, cowok-cowoknya juga melakukan tapi lebih banyak perempuan dalam hal ini,” kata Shannen.       

Baca Juga:  16 Team dari 5 Negara Siap Berlaga di Tahapan Final PUBG Mobile Club Open 2019

Arief menambahkan, pihak-pihak dalam komunitas game masih melihat pemain perempuan sebagai pemanis. Tidak hanya harus jago, banyak sekali tuntutan agar mereka harus tetap tampil feminin dan cantik, ujarnya.

“Bahkan sebelum bertanding ada yang pakai make-up dulu. Ini kan jadi salah satu hal yang menegaskan stereotip yang diciptakan oleh masyarakat kita yang maskulin dan patriarkal,” ujarnya.

Arief melihat sampai saat ini komunitas gamer masih setengah hati dalam membantu perempuan fokus untuk menjadi pro gamer

“Ketika mereka merekrut perempuan, hal ini tidak dibarengi dengan upaya-upaya lain untuk menghapus diskriminasi terhadap gamer perempuan. Maka dari itu, perempuan tetap masih mengalami hambatan di sana-sini,” kata Arief.

Baik Nixia maupun July dan Shannen mengakui bahwa turnamen e-sport khusus perempuan membantu mereka untuk berkembang. Namun, sayangnya jumlah kompetisinya masih kalah dengan turnamen umum, ujar Shannen.

“Contoh, game yang baru dua bulan booming itu Valoran. Itu turnamen umumnya setiap minggu ada terus, sementara turnamen khusus perempuan jarang,” ujarnya.

Senada dengan Shannen, Nixia melihat perempuan terkadang sudah grogi duluan ketika ingin masuk ke turnamen umum karena merasa jam terbang latihan mereka kurang dari tim laki-laki.

“Sejak awal ranah ini memang cukup kompetitif, apalagi sekarang udah jarang ada ladies tournament lagi. Susah sih mengejar jam terbang tim cowok. Jadi banyak yang dari awal sudah kehilangan kepercayaan diri mereka duluan,” kata Nixia.  

Menurut Arief, turnamen khusus perempuan adalah langkah afirmatif karena garis start perempuan gamer tidak sama dengan yang laki-laki. Sayangnya, adanya turnamen ini tidak disertai dengan perbaikan struktural dan ekosistem dalam industri untuk bersama-sama membantu gamer perempuan menyelesaikan hambatan-hambatan yang mereka alami.

“Misalnya, bantu mereka bisa latihan secara rutin, lalu membantu mengubah citra perempuan gamer bukan lagi sebagai aksesoris. Tapi kan kenyataannya tidak. Dari pengamatan saya saat ini turnamen perempuan masih banyak diadakan hanya untuk menggaet penonton saja” kata Arief.