fbpx
banner

Selamat Tinggal: Cinderamata Terakhir Dari Daramuda

10 April 2020 | Musik

Penulis: Lafa Pratomo

Layaknya berbagai macam upaya kolaborasi antar musisi. Pendengar selalu berharap sesuatu yang kelewat atraktif dan mengguncang, atau sajian musik yang ultra ‘berbahaya’ dari sebuah kolaborasi. Seolah-olah ‘collabs’ adalah sebuah jalan keluar dari kebosanan penggiat gigs akan katalog-katalog yang tersedia di etalase industri. Lain halnya dengan respon dari para penyelenggara acara musik kelas festival. Rasanya, tiga-empat tahun ke belakang ada gerakan dahaga massal para penyelenggara untuk mempercantik dan menambah daya tarik acaranya dengan menampilkan proyek kolaborasi, yang disayangkan hasilnya, tidak semua, namun kebanyakan “dipaksakan”, karena permintaan kolaborasi datang bukan titah dari musisinya melainkan penyelenggara yang asal-asalan comot tanpa bekal riset musikal “kalau si anu dengan si anu disatukan pasti keren!”, demi mencapai sebuah gimmick dan kejaran statistik pengunjungnya saja. 

Daramuda muncul ke publik di tahun 2017 berbekal sebuah akun instagram dan sejumlah fotografi menawan menampilkan tiga nama Danilla Riyadi, Rara Sekar dan Sandrayati Fay, hingga dengan “tergesa” mencuat dan besar karena ekspektasi dan permintaan kedua pihak tersebut (pendengar dan penyelenggara). Akan tetapi, alih- alih menampilkan kolaborasi seperti yang di-ekspektasikan publik, mereka rupanya tidak menampilkan ‘collabs’ yang diharap. Hanya merilis sejumlah sajian audio visual lewat kanal Youtube atas karya masing-masing, di tempat yang berbeda dengan konsep lanskap alam, sejalan dengan budaya musik folk kekinian, sederhana dan apa adanya. 

Lantas, proyek apa sesungguhnya Daramuda ini sehingga tidak menampilkan ketiganya dalam satu frame dan rekaman? Bukankah sebaiknya menjadi sebuah proyek kolaborasi saja? Merangkum sejumlah pertanyaan dan pernyataan warganet saat itu yang menginginkan Daramuda melakukan kolaborasi. 

Nihilnya kolaborasi di Daramuda saat itu, tidak sama sekali meruntuhkan ekspektasi pemirsa tersebut. Adalah Folk Music Festival 2018 yang berhasil “merayu” Daramuda untuk akhirnya tampil pertama kalinya di panggung, membawakan karya-karya masing-masing yang sebelumnya diunggah di platform Youtube, dan satu karya yang akhirnya sekaligus mengamini ekspektasi kolaborasi, dengan tajuk ‘Salam Kenal’, yang kemudian dirilis di tahun berikutnya dalam bentuk EP berjudul ‘Salam Kenal’. Setelahnya, diikuti tampil Synchronize Fest 2018, Music Gallery dan mengiyakan momen agung di 2019, tampil bersama legenda hidup Iwan Fals di konsernya yang bertajuk ‘Aku Cinta’. 

Baca Juga:  Sajama Cut Rilis Single Berbahasa Indonesia Kedua “Adegan Ranjang 1981 ❤ 1982”

Sebagai sebuah proyek kolaborasi penyanyi yang bersinar, Daramuda tidak serta merta aji mumpung menjawab panggilan-panggilan untuk tampil dari panggung ke panggung. Di luar perbedaan kesibukan masing-masing dan jarak, Daramuda memang seperti tidak memiliki keinginan untuk memanfaatkan berbagai kesempatan untuk “jualan” dengan jadwal panggung yang kelewat padat, aktif dengan propaganda-propaganda media sosial, mengejar prime time perilisan, melakukan pergerakan digital berbasis data, atau melancarkan aktivitas interaktif yang melibatkan penggemarnya. Rasanya memang tidak ada waktu dan keinginan untuk itu. 

Mungkin ada hal yang luput dari perhatian publik selama ini, yakni adalah tim di balik Daramuda. Jika selama ini yang kita kenal sebagai Daramuda adalah tiga nama saja yang menjadi kesayangan warganet itu, maka kita mengenal Daramuda secara tidak utuh. Jika jeli, maka ada sejumlah nama yang asing di mata namun selalu konsisten hadir di setiap caption Instagram atau Youtube, mereka yang terlibat di dalam Daramuda. Mari kita sebut. Ada Adika Hernandi, Bintang Bekti, Ben Laksana, Deni Kochun, Doly Harahap, Febrian Moh dan Sandi Simon. Daramuda ibaratkan sekumpulan pemuda-pemudi yang duduk cantik di sebuah kedai kopi modern mencetuskan “bikin apa yuk!?”, lalu disepakati oleh semuanya, kemudian diwujudkan dengan senang hati, melakukan vakansi dengan menjelajah ke penjuru-penjuru negeri, menciptakan momen bersama, mengabadikannya dalam bentuk audio dan visual, lalu menjadi sebuah romantisme yang dikenang sepanjang hayat. Singkatnya, seperti liburan keluarga. 

Baca Juga:  Ninety, Unit Rock Alternatif Rilis Album Sekarang

Kali ini, di tahun 2020, Daramuda benar-benar mengejawantahkan sebuah kolaborasi, setelah melewati serangkaian waktu bersama selama tiga tahun. EP ‘Pertigaan’ adalah sebuah karya yang direkam secara khusus di Bali, di sebuah villa berkonsep artist residency bernama Flow House dan diolah di Posko Studio yang tak jauh dari villa tersebut. Oleh Idola Remaja Records, ‘Pertigaan’ dirilis dengan menampilkan tiga karya di antaranya ‘Sejauh Mata Memandang’, ‘Mereka’ dan ‘Buka’, yang dibawakan bersama-sama dalam satu rangkaian dengan gaya musik yang folk yang sederhana, berbekal masing-masing gitar kopong, dan olah vokal berpadu antara ketiganya. 

Pun jua, Lahirnya ‘Pertigaan’ juga menjadi sebuah momen penanda. Penanda akan usainya sebuah petualangan, di mana Danilla, Rara dan Sandra mesti undur pamit dari tiga tahun memadu untaian peristiwa. Hal itu ditandai dengan menyusul satu tajuk lainnya setelah EP ‘Pertigaan’, yakni sebuah lagu yang amat sentimental untuk Daramuda, berjudul ‘Selamat Tinggal’. 

Jika pertanyaan yang muncul adalah “kenapa mesti berakhir?”, maka hanya Danilla, Rara dan Sandra yang tahu jawabnya, sekalipun mereka tidak punya kewajiban untuk menjawab itu. 

Lalu, setelah ini apa? Apakah ‘Selamat Tinggal’ berarti sebuah perpisahan untuk kemudian memulai sesuatu yang baru lagi? 

Entahlah. 

‘Selamat Tinggal’ adalah sesantun-santunnya ucap dari berat hati yang mesti rela bahwa sesuatu memang semestinya berakhir. Ini adalah sebuah cinderamata yang paling tulus diberikan untuk semuanya, baik pendengar setia, kawan-kawan, dan terutama tim yang selalu dibanggakan dan senang hati berkarya bersama-sama. 

Untuk malam panjang yang seutuhnya, untuk salam kenal yang hanya sesaat, untuk semak hati yang terpajang di purnama. 

Selamat tinggal. 

Untuk malam panjang yang seutuhnya, untuk salam kenal yang hanya sesaat, untuk semak hati yang terpajang di purnama. 

Selamat tinggal.