Penyelamatan Laut Indonesia Mendesak

Bagikan:

Seiring dengan besarnya potensi ekonomi yang dimiliki laut Indonesia, maka aktivitas pemanfaatan pun harus memperhatikan aspek keberlanjutan. Potensi tersebut tentunya harus pula bisa dinikmati oleh generasi mendatang. Catatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), potensi laut Indonesia ditaksir mencapai Rp 1.772 triliun, dengan yang terbesar adalah potensi kawasan pesisir sebanyak Rp 560 triliun. 

Fakta di lapangan, kualitas kehidupan ekosistem pesisir dan laut dalam mengalami penurunan karena berbagai tindakan merusak dan perubahan iklim. Sebagai contoh, kerusakan terumbu karang di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Data LIPI memperlihatkan, kesehatan terumbu karang di kepulauan tersebut mengkhawatirkan. Begitu pula dengan data MSDC (Marine Science Diving Club) Universitas Hasanuddin yang melakukan pengecekan secara berkala setiap tahun. 

Data MSDC terbaru (2018), tutupan karang hidup Pulau Barrang Lompo tercatat 40% (kategori sedang), Pulau Barrang Caddi sebesar 38% (kategori sedang), dan Pulau Samalona sebesar 30% (kategori buruk). “Hasil pengamatan yang kami lakukan di tiga pulau tersebut selama 9 tahun terakhir memperlihatkan tren data kondisi tutupan karang di kepulauan Spermonde mengalami penurunan,” ujar Muhammad Irfandi Arief, Ketua MSDC Universitas Hasanuddin, dalam kegiatan diskusi bertajuk “Penyelamatan Laut Indonesia Mendesak,” di acara Festival Laut 2019. 

“Spermonde adalah contoh nyata dari lemahnya pengawasan dan penegakan hukum oleh pihak berwenang, sekaligus rendahnya kesadaran masyarakat,” ujar Afdillah, Jurukampanye Laut Greenpeace Indonesia. Pemerintah harus segera turun tangan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah terjadi pada ekosistem bawah laut Kepulauan Spermonde. Pasalnya, total nilai manfaat ekonomi ekosistem terumbu karang di perairan Spermonde terbilang besar, di mana berdasarkan beberapa penelitian berkisar dari Rp 30.362.614 hingga Rp 1.698.945.542 per hektar per tahun. 

Bila ekosistem Spermonde rusak parah, kerugian bukan hanya akan dialami oleh nelayan atau pelaku usaha perikanan. Pemerintah daerah juga bisa kehilangan potensi pemasukan dari sektor pariwisata. Greenpeace pun meluncurkan petisi #SaveSpermonde untuk meminta pemerintah, pusat dan daerah, mengambil langkah cepat penyelamatan kepulauan itu dari berbagai ancaman. Penyelamatan Spermonde bisa menjadi titik awal dari tindakan serius untuk memulihkan dan menjaga ekosistem dan ruang laut nasional.

Tak hanya Spermonde, Karawang juga memiliki contoh nyata kerusakan ekosistem pesisir dan bawah laut. Sebuah sumur yang dikelola Pertamina Hulu Energi mengalami kegagalan operasional, sehingga minyak pun bocor tidak terkendali. Tumpahannya menyebar hingga wilayah Kepulauan Seribu. Pertamina sudah mengumumkan keberhasilan menangani petaka tersebut. Namun, kini tumpahan minyak kembali terlihat di pesisir pantai utara Karawang. 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *