fbpx
banner

Narsisme Pasca-Hijrah, Eksistensialis atau Esensialis?

19 Januari 2020 | Gaya Hidup

Kontributor: Ali Zaenuddin

Akhir-akhir ini fenomena hijrah menjadi sebuah fenomena sikap keberagamaan yang bagitu masif dan tak terbendung di kalangan generasi milenial.

Banyak di antara mereka yang telah berhijrah, merasakan pengalaman spiritual yang begitu berbeda, lebih dalam mengenal agama dan semakin giat mengikuti berbagai kajian keagamaan. Mulai dari artis tanah air, anak-anak muda di perkotaan, bahkan pemuda dan pemudi yang berada di pelosok desa turut meramaikan fenomena ini. 

Disadari atau tidak, gelombang hijrah yang begitu derasnya saat ini dapat menjadi sebuah peluang dan tantangan bagi para tokoh maupun pemuka agama untuk memberikan sebuah pemahaman keagamaan yang komprehensif, mendalam, serta mapan agar mereka tidak salah kaprah memahami arti atau esensi agama.

Sebab, jika agama dipelajari dan dipahami secara tak menyeluruh maka akan menimbulkan berbagai persoalan yang cukup krusial, khususnya persoalan agama yang sarat dengan khilafiyah (perbedaan pendapat) yang berpotensi memunculkan sentimen keagamaan di ranah publik. 

Di tengah zaman yang serba digital seperti saat ini, generasi milenial cenderung menjadikan sosial media sebagai wadah untuk memperoleh ragam informasi dengan cepat dan instan. Jika penyebaran hijrah lebih dominan melalui sosial media, maka yang dikhawatirkan akan memunculkan simplifikasi kajian beragama.

Artinya tidak ada lagi dialog  dan proses pembelajaran agama sebagaimana di pondok pesantren. Semuanya serba instan, akhirnya pemahaman keagamaan mereka menjadi dangkal dan tidak komprehensif. 

Selain itu, efek dari hijrah memunculkan sebuah dikotomi antara “aku yang sudah berhijrah” dan “mereka yang belum hijrah” merupakan sebuah fakta sosial yang menunjukkan adanya sekat yang membatasi serta membedakan di antara mereka yang telah berhijrah dan belum berhijrah.

Baca Juga:  Cara Mudah Mempromosikan Pariwisata di Kotamu Melalui TikTok

Antara hijrah dan taubat sebenarnya berbeda satu sama lainnya, jika dilihat dari esensi fundamental di antara keduanya. Antara hijrah dan  taubat hanya memiliki kesamaan dalam konsepnya, namun berbeda dalam pengemasannya. Aspek mendasar yang membedakan antara keduanya terletak pada pemaknaannya secara bahasa. 

Fenomena hijrah yang saat ini dimaknai oleh para generasi milenial lebih pada perubahan sikap gaya hidup dan tata cara berpakaian yang sesuai syariat Islam, namun belum sebetulnya masuk dalam ranah etis-ideologis. 

Hal ini didasarkan pada pengalaman dan fakta yang penulis temukan di lapangan. Beberapa bulan yang lalu, penulis melakukan survey kecil-kecilan ke tempat-tempat pengajian dan kajian anak-anak muda yang ada di Kota Yogyakarta. 

Dari hasil perbincangan dengan “akhi” dan “ukhti” (panggilan untuk mereka yang sudah hijrah), latar belakang mereka hijrah didasarkan pada pengalaman pribadi mereka. 

Ada yang merasa kehidupannya sangat kosong, masih awam dalam agama, bahkan ada yang karena diputuskan oleh sang pacar hingga akhirnya memilih untuk hijrah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan lain-lain. Uniknya ada yang ikutan hijrah karena melihat teman-temannya yang lain sudah hijrah.

Hijrah dalam konteks tersebut masuk dalam ranah etis ideologis. Artinya, alasan yang melatarbelakangi mereka hijrah adalah karena faktor esensial-ideologis. Sehingga hijrah adalah pilihan baginya untuk merubah diri menjadi pribadi yang jauh lebih baik. 

Namun melihat pada fenomena yang terjadi saat ini, makna tersebut bergeser pada ranah estetis-eksistensialis. Artinya hijrah itu tentang bagaimana cara berpakaian serta identitas dan simbol-simbol yang islami seperti cadar, gamis, niqob, cingkrang, jenggot dan simbol-simbil lainnya. 

Baca Juga:  Balap Lari Liar, Trend Baru Yang Dianggap Melanggar Hukum

Hal ini menunjukkan adanya bentuk eksistensialisme, sehingga dengan identitas tersebut dia akan dianggap telah berhijrah. Kita juga dapat melihat perubahan yang begitu nampak dari mereka yang telah berhijrah. 

Di sosial media, seperti status Facebook, Snap WhatsApp, atau Instagram Feed mereka, sering kita menjumpai postingan-postingan yang bernuansa religius, seperti potongan ceramah ustaz-ustaz tertentu, quotes islami, atau ajakan-ajakan untuk berhijrah. Hal ini seakan menunjukkan sebuah narsisme pasca-hijrah dalam ranah eksistensialisme.

Apabila hijrah hanya ditonjolkan pada aspek eksistensial, maka akan menimbulkan dampak negatif terhadap relasi sosial di sekitarnya.

Faktanya kebanyakan orang yang berhijrah mengalami keretakan hubungan sosial dengan teman atau kawan lamanya yang belum berhijrah hal ini dikarenakan konstruksi berpikir sejarah yang menekankan pada aspek ekstern eksistensial sebagaimana yang dijelaskan di atas, serta cenderung membuat dikotomi antara aku yang sudah berhijrah dan mereka yang belum berhijrah.

Oleh karena itu, maka makna hijrah harus dikembalikan pada makna asalnya bahwa hijrah bukan hanya berorientasi pada aspek eksistensial saja tetapi hijrah harus mampu menempatkan diri sebagai pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya tanpa menonjolkan sisi eksistensialisme.

Satu hal yang harus dipahami bahwa sejatinya hijrah bukan hanya persoalan sudah bercadar atau belum, seberapa besar kerudungmu, seberapa cingkrang celanamu atau seberapa panjang jenggotmu. Namun hijrah itu tentang bagaimana memperbaiki hubungan kita kepada Tuhan, menjadi pribadi dan hamba yang jauh lebih baik dari sebelumnya.