fbpx

Menilik Kasus Gofar Hilman dan Kekerasan Seksual di Indonesia

13 Juni 2021 | Gaya Hidup

Beberapa waktu ini sedang ramai di dunia maya mengenai tudingan terhadap content creator dan public figure Gofar Hilman prihal pelecehan seksual kembali menghangatkan isu ini ke permukaan.

Keberanian seorang perempuan pemilik akun Twitter @quweenjojo atau Nyelaras yang mengaku sebagai korban pelecehan oleh Gofar Hilman nampaknya telah menuai sorotan tajam dari berbagai pihak. Tak sedikit yang mengulurkan kekuatan, solidaritas dan peluk kasih sayang untuknya.

Di lain sisi, penyebab kejadian sepeti ini masih sering berulang karena sistem hukum di Indonesia tidak cakap menangani kasus kekerasan seksual. Karenanya, wajar bila banyak penyintas kekerasan seksual akhirnya butuh waktu membangun keberanian bercerita.

Menurut Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, kita tak bisa membicarakan kekerasan seksual seperti membicarakan kasus penipuan atau pencurian. Penyebab kekerasan seksual bukanlah adanya peluang atau keserakahan, melainkan cara berpikir keliru, yang membutuhkan upaya sistemik untuk membongkarnya.

Menghapus kekerasan seksual membutuhkan intervensi negara melalui undang-undang sebagai bentuk formalnya. Adanya Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual akan membawa perubahan setidaknya melalui tiga hal.

Baca Juga:  Marriott International Terangi Asia Pasifik Untuk Sebarkan Harapan

Pertama, undang-undang adalah komitmen negara untuk menyelesaikan masalah. Karena itu, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual tak hanya berisi aturan pidana.

“Tapi juga pencegahan, penanganan korban, dan perlakuan penegak hukum terhadap korban,” cuit Jentera di Twitter dikutip pada Kamis (10/6/2021).

Kedua, ada teori yang menempatkan undang-undang sebagai pendorong perubahan sosial. Perilaku berulang yang terus-menerus dilakukan oleh masyarakat, yang sering kali secara longgar dinamai budaya, bisa diubah melalui undang-undang yang mengatur perilaku.

Ketiga, panduan hukum dibutuhkan tak hanya dalam penegakan hukum pidana, tapi juga untuk mengakses sumber daya negara.

“Misalnya untuk memastikan adanya pendamping psikologis korban, yang membutuhkan dasar hukum agar bisa diselenggarakan oleh instansi terkait,” tegasnya.

Sebelumnya di tahun 2020 yang lalu sempat beredar tweet serupa dari akun twitter @sandi_sa119 yang mengatakan mengenai tindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh content creator Turah Parthayana kepada seseorang berinisial JA, hingga Turah membuat video klarifikasi di saluran YouTube nya dan menempuh jalur hukum layaknya Gofar untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Seseorang bernama Kieya dengan akun twitter @doubleyoungg belum lama ini juga mengatakan bahwa dirinya sempat tertular penyakit menular seksual 2 tahun lalu karena berhubungan badan dengan Gofar Hilman.

Baca Juga:  Banjir Jabodetabek 2020: Anies Baswedan Paling Trending di Medsos