fbpx

Menilik Gelora Saparua, Salah Satu Kantong Musik Rock dan Metal di Indonesia

22 Juli 2021 | Musik

Sesuai namanya, Gelora adalah akronim dari Gelanggang Olahraga. Selain lapangan atletik dan taman sarana umum, salah satu tempat di dalam area Gelora ini adalah sebuah gedung legendaris. Lantaran bernilai historis tinggi yang memiliki peran krusial dalam tumbuh kembangnya ekosistem musik bawah tanah Kota Bandung yang bertempat di Jl. Banda No. 28, Kota Bandung.

Sebelum dibangun GOR Saparua, kawasan ini sempat dijadikan tempat latihan militer pada zaman pemerintahan Hindia Belanda. GOR Saparua awalnya dibangun pada tahun 1961 untuk kepentingan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) Kelima. Seiring perkembangannya, Saparua mengalami pergeseran fungsi menjadi venue untuk acara musik. Dimulai dari era 1960-an, 1970-an, 1980-an dan mengalami masa kejayaannya selama periode 1990-an hingga awal 2000-an.

Gerakan Musik Independen

Dengan semangat independen dan gotong royong, berbagai komunitas musik “arus pinggir” atau biasa disebut underground menggelar acara musiknya sendiri ditempat ini. Serta secara perlahan tetapi pasti, GOR Saparua kemudian menjadi melting pot bagi anak muda Bandung di masa itu.

Antusiasme para pemuda Kota Bandung dan kota lainnya pada musik “arus pinggir” dari ska, punk rock, hardcore, hingga death metal ternyata sangat tinggi di setiap perhelatan acaranya. Mulai dari Hullabaloo (1994), Hullabaloo 2 (1995), Bandung Underground (1996), Gorong-Gorong (1997), Bandung Berisik (1997), dan terus hingga awal tahun 2000-an.

Film Dokumenter Gelora Saparua

Pengaruh besar GOR Saparua dalam kancah musik independen akhirnya diarsipkan dalam bentuk film dokumenter bertajuk Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua. Film ini merupakan proyek Rich Music yang menjadi penggagas rangkaian program DistorsiKERAS.

Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua berkisah tentang geliat komunitas musik rock dan metal yang berpusat di GOR Saparua, Bandung. “Proyek ini inisiatif dari pihak Cerahati, Arian13, dan Roni Pramaditia. Kami sama-sama berasal dari Bandung. Dan turut merasakan pertumbuhan budaya di Bandung era 1990-an saat gerakan independen mulai membesar di sini. Dan kami menyadari ternyata selama ini belum banyak dokumentasi dari momen sejarah tersebut,” ujar Edy Khemod, Creative Director Cerahati yang turut membesut proses kreatif film ini.

Baca Juga:  A Curious Voynich Suguhkan “Meninges” Melalui Kacamata Berbeda

Film dokumenter Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua dipastikan akan tayang serentak pada 15 Juni 2021 yang lalu dan akan diputar secara online di situs web Rich Music, Extreme Moshpit, Vidio, Loket.com, dan Rock Nation.

“Sengaja kami rilis lewat website supaya penonton bisa menikmati di rumah,” kata sutradara Alvin Yunata. Alvin sendiri merupakan mantan vokalis band rock Harapan Jaya yang sejak 2002 bermain di band slebor Teenage Death Star sebagai gitaris. Selain itu Alvin juga merupakan seorang aktivis pengarsipan musik Indonesia di yayasan nirlaba Irama Nusantara.

“Film ini adalah sebuah jurnal dari sebuah gedung yang kemudian sejak berdirinya dengan sengaja dialihfungsikan juga sebagai sarana panggung seni dan hiburan dari generasi ke generasi. Namun ada fenomena menarik di dekade terakhir sebelum gedung ini dinon-aktifkan. Yaitu lahirnya sebuah generasi yang menjunjung tinggi kolektivitas di mana mereka bisa mengubah gedung ini bukan lagi menjadi sekedar gedung pertunjukan seni namun lebih dari itu. Di mana sebuah titik melting pot ini melahirkan ideologi baru di kalangan budaya pop. Ruang pertukaran informasi dan suatu pergerakan yang mampu membawa gedung ini sebagai salah satu kuil rock and roll dalam sejarah scene musik underground di Indonesia,” kata Alvin.

Sejak 1960-an, GOR Saparua sudah menjadi titik penting bagi perjalanan musik di Bandung. Salah satu catatan awal yang bisa ditelusuri, adalah ketika pada 1963 Sam Bimbo bersama band Aneka Nada, yang dibentuknya bersama Atjil Bimbo dan Guruh Soekarnoputra, manggung bersama band asal Jakarta, Eka Sapta. “Itu adalah konser pertama di Saparua,” kenang Sam.

Baca Juga:  Sam Smith: Industri Musik Dunia Terlalu Seksis dan Homofobik

Tidak salah rocker legendaris Benny Soebardja menjuluki GOR Saparua sebagai ”kawah candradimuka” band-band jempolan Tanah Air. ”Sebuah band bisa disebut hebat kalau sukses pentas di sana,” kata Benny, pentolan band rock progresif Shark Move, Giant Step dan The Peels, seperti diberitakan Kompas, 8 Maret 2015.

Sederet band rock di era 1970-an yang pernah unjuk gigi di GOR Saparua antara lain AKA, Freedom of Rhapsodia, Superkid, The Rollies, dan God Bless. Hingga di era 1990-an, band-band Bandung seperti Runtah, Homicide, Jasad, Koil, Forgotten, Jeruji, Kubik, Puppen, Burgerkill, Pas Band, dan Pure Saturday, mengawali kariernya dari GOR Saparua.

Puncak Popularitas

Puncak popularitas Saparua terjadi di era 1990-an. Saat itu kancah musik Bandung memang sedang memasuki masa paling bergairah karena banyak band-band lahir dan kelak jadi besar di era ini, sebut saja Koil, Pure Saturday, Puppen, Burgerkill, Jasad hingga Forgotten.

Berdurasi satu jam, Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua dihadirkan untuk mengapresiasi sejarah kancah rock-metal di Indonesia. Musisi, jurnalis, praktisi lainnya dari lintas generasi ikut serta menjadi narasumber film ini. Selain Sam Bimbo, di antaranya ada Arian 13 (vokalis Seringai), Dadan Ketu (manager Burgerkill/Riotic Records), Eben (gitaris Burgerkill), Suar (mantan Vokalis Pure Saturday), Wendi Putranto (jurnalis musik, manajer Seringai), Candil (mantan vokalis Seurieus), Fadli Aat (Diskoria, mantan bassis Step Forward), Buluks (Superglad, Kausa), hingga Idhar Resmadi (jurnalis musik).