Melestarikan Bahasa Daerah Bersama BASAbali

2 Januari 2020 | Seni
Bagikan:

Zaman sekarang, waktu tak berpihak bagi banyak bahasa. Sejumlah pakar mengklaim satu bahasa lokal telah raib tiap bulannya dan menurut Permanent Forum on Indigenous Issues, 40 persen dari sekitar 6.700 bahasa di dunia saat ini dalam kondisi terancam punah.

Menanggapi isu tersebut, di Indonesia lahir sebuah komunitas untuk melestarikan bahasa daerah terutama bahasa Bali.

BASAbali beranggotakan puluhan tokoh dan relawan. Selain pakar bahasa dan antropolog, ada fotografer Rio Helmi dan budayawan Agung Rai. Sejak 2011, mereka bergerilya menggarap beragam proyek, termasuk mengembangkan kamus Wiki dan TTS berbahasa Bali. Satu proyeknya yang fenomenal ialah Google berbahasa Bali. Lewat kemitraan dengan sejumlah lembaga, mereka menempatkan bahasa Bali sebagai opsi bahasa pengantar Google.co.id. (Boks “I’m Feeling Lucky” diterjemahkan jadi “Tiang Sedek Aget.”)

Tak cuma lewat internet, BASAbali terjun ke lapangan. Lewat Middle Schools Project, mereka menyebarkan perangkat lunak belajar bahasa di 13 SMP di Denpasar. Proyek itu dipicu fakta kian banyaknya remaja yang tak menguasai bahasa leluhurnya. Alissa J. Stern, motor BASAbali, menceritakan pengalaman stafnya melawat sebuah sekolah di Denpasar. Saat ditanya soal pentingnya berbahasa Bali, segenap siswa merespons “penting,” tapi dalam bahasa Indonesia. Stafnya lalu meminta siswa menjawab dalam bahasa Bali, dan hanya segelintir yang bisa melakukannya.

Di tengah Bali yang kian kosmopolit, BASAbali ingin memastikan bahasa lokal, juga sistem pengetahuan yang dikandungnya, terus lestari. Tahun lalu, upaya mereka diakui dunia. BASAbali menjadi organisasi asal Indonesia pertama yang diganjar International Linguapax Award, semacam Oscar di bidang linguistik.


Bagikan:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *