fbpx
banner

Maurizio Cattelan, Sosok Seniman Kontroversial Dibalik Instalasi Pisang Termahal di Dunia

15 Desember 2019 | Seni

Karya seniman Italia, Maurizio Cattelan, sangat mencuri perhatian dunia. Instalasi seni berupa pisang yang dilakban dan ditempel di dinding tersebut dihargai 120.000 dollar AS atau sekitar Rp 1,682 miliar di Art Basel Miami Beach.

Siapakah Maurizo Cattelan? Cattelan merupakan seniman yang tumbuh besar di Kota Padua, Italia Utara. Ayahnya adalah seorang sopir truk dan ibunya seorang pelayan. Dilansir dari The Art Story, sewaktu kecil, keluarga Maurizio Cattelan merupakan keluarga yang harus berjuang secara finansial. Sosok Maurizio adalah sosok yang tak suka dengan sekolah karena nilainya selama di sekolah selalu jelek dan tergolong siswa yang bermasalah.

Ketika Maurizio berusia 20-an tahun, ibunya sakit dan meninggal dunia. Kala itu, Maurizio menyalahkan dirinya atas penyakit yang diderita sang ibu. Kemudian, ia memutuskan berhenti sekolah dan melakukan berbagai pekerjaan untuk menunjang ekonomi keluarganya. Bekerja di kantor pos, pelayan dapur, bahkan hingga menjadi pekerja di kamar mayat dilakoni Maurizio. Pengalaman hidup yang dilalui, diyakini membentuk Maurizio menjadi seorang “seniman pemberontak”. Sewaktu kecil, ia sempat menggambar kumis di patung-patung gereja yang kemudian membuatnya dikeluarkan dari paroki.

Pada usia 20-an tahun, Maurizio pindah ke Milan dan mulai menekuni dunia seni. Karya-karya cattelan umumnya bernuansa humor, tetapi berbalut ironi.

Pada masa awal kariernya, ia sempat diliputi kekhawatiran akan kegagalan yang membuatnya menutup galeri seni dan menggantungkan tanda di pintu dengan tulisan “Torno subito” – segera kembali.

Baca Juga:  Kebon Studio Yogyakarta: Signature Bagi Filmmaker Itu Penting

Pada pameran kelompok di Castello Rivara (sebuah wilayah dekat Turin), ia hanya memamerkan karya berupa seutas tali tempat tidur yang digantung di jendela terbuka seolah ia baru lari dari kejadian.

Pada tahun 1996, Cattelan mencuri barang dari sebuah pertunjukan karya seniman lain dan menyatakan karya tersebut sebagai karyanya. Polisi mendatangi Maurizio dan memaksanya mengembalikan karya seni yang dicuri itu. Pertunjukan seni tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Another Fucking Readymade.

Karya Cattelan mulai dikenal luas pada 1997 dengan karyanya berjudul Untitled. Karya tersebut menampilkan dua tikus taksidermi kecil yang berada di kursi malas di bawah payung pantai. Melalui karya tersebut, ia mulai dikenal di berbagai kalangan kritikus seni.

Cattelan pernah membuat karya di mana ia “menempelkan temannya”, seorang galeris Milan, Massimo de Carlo. Pada karya yang berjudul A Perfect Day (1999), ia menempelkan de Carlo ke dinding selama hampir dua jam. Saat itu, karena lamanya waktu “dipajang” dan paparan lampu galeri, membuat de Carlo pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Pada karyanya berjudul Errotin La Vraie Lapin (1995), ia meminta galeris Paris Emmanuel Perrotin untuk mengenakan kostum kelinci merah muda berbentuk seperti penis besar.

Baca Juga:  Artist Talk: Ykha Amelz

Pada 1999, Cattelan menyelenggarakan billenial ke–6. Saat itu, ia mengundang para elit seniman ke sebuah hotel di Bahama. Namun, tak ada satu pun karya seni yang dipamerkan. Cattelan menjelaskan secara sederhana, bahwa itu adalah pameran, segala sesuatu yang mengelilingi seni.

Saat memasuki era millennium, Cattelan kemudian mulai membuat karya degan patung hyperrealist. Cattelan membuat patung tersebut dari lilin. Salah satu karya Cattelan dengan patung ini adalah La Nona Ora. Karya ini berupa patung seukuran Paus Yohanes Paulus II berbaring di karpet merah. Paus tengah memegangi salib dan dihancurkan oleh meteor. Karya-karya patung Cattelan memang banyak berbentuk tokoh-tokoh agama serta para sejarawan.

Pada 2011, Cattelan sempat menyatakan dirinya mundur dari dunia seni. Saat itu, ia membuat retrospektif berupa gambar dirinya tengah membawa batu nisan bertuliskan “The End”. Namun, pada 2016, ia berubah pikiran dan kembali.

Pada 2016, Cattelan membuat karya berjudul Amerika (2016). Karya tersebut adalah toilet dari emas padat 18 karat. Toilet tersebut berfungsi penuh sebagai toilet dan dipasang di kamar mandi kecil di Guggenheim, New York. Karya tersebut memiliki makna, apa pun yang dan semahal apapun yang Anda makan, hasilnya akan sama saja karena akan berujung di toilet.