fbpx
banner

Lagu-Lagu #20DetikCuciCorona Terus Temani Masyarakat Cuci Tangan di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

20 Juni 2020 | Musik
#20DetikCuciCorona

Dengan rambut panjang yang sudah putih merata, seorang nenek memperagakan adegan cuci tangan dengan sabun. Sejenak tampak bingung menghitung durasi 20 detik, ia lalu membuka akun Instagram @20detikcucicorona, memilih lagu metal, lalu segera tenggelam menikmati lagu 20 detik ini sambil mencuci tangannya. Tak lupa, si nenek juga melakukan headbang khas musik metal.

Cerita video di atas adalah salah satu bentuk promosi yang dilakukan gerakan #20DetikCuciCorona untuk mengajak orang mengakses playlist lagu berdurasi 20 detik. Lagu-lagu ini donasi karya para musisi Indonesia untuk menemani masyarakat mencuci tangan – yang menurut anjuran WHO adalah selama 20 detik.

Adegan di dalam video yang kini tengah viral tersebut, terinspirasi dari keadaaan yang terjadi di lapangan. Playlist 20 Detik Cuci Corona mulai dimanfaatkan masyarakat di berbagai kota di Indonesia untuk mengedukasi serta menemani mereka cuci tangan melawan corona, baik di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar, maupun new normal saat ini.

Saat wabah belum selesai, skema new normal untuk mengurangi tekanan ekonomi tentu membuat interaksi manusia dan resiko penularan bisa meningkat. Di saat seperti ini, Adaptasi Kebiasaan Baru, rajin cuci tangan 20 detik dengan sabun, justru makin digaungkan, agar nyawa manusia dan denyut ekonomi bisa selamat bersamaan hingga akhir pandemi.

Baca Juga:  Nyanyian Sendu Punk Rocker dalam Single Terbaru Sundancer "Firasat"

Playlist #20detikcucicorona ini telah diputar di pasar tradisional Pakis Baru Pacitan, dan Pasar Geneng Wonogiri. Tak hanya pasar, tapi juga di coffee-coffee di Jogja, laundry di Brebes, toko di Makassar, dan tempat publik lain di Riau, Bumiayu, Boyolali, hingga Alor. Semua mulai ambil bagian memutar playlist ini untuk mengingatkan warga agar lebih rajin cuci tangan.

Di Pacitan, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Nawangan, Nurus Son’ani, menggunakan karya tersebut untuk membantunya mengedukasi tentang pentingnya cuci tangan guna memutus rantai penyebaran COVID-19 kepada warga sekitar. Dia menilai, tema dan lirik lagu sangat mendukung untuk mengajak warga sekitar hidup lebih bersih.

Sedangkan, Handika, seorang warganet, mengaku pertama kali mengetahui playlist tersebut dari akun Instagram @20detikcucicorona. Di situ, dia mendengarkan musik karya Cliffton Jesse Rompies, personel band Clubeighties. “Lagunya asyik, bikin pingin cuci tangan terus,” ujarnya.

Gerakan #20DetikCuciCorona yang diinisiasi sekelompok pekerja kreatif ini, awalnya lahir dari keresahan atas kurangnya kesadaran masyarakat untuk mencuci tangan selama 20 detik. Padahal itu merupakan langkah dasar yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk pencegahan COVID-19.

Menurut Dhani Hargo, salah seorang penggagas gerakan ini, “Istilah lockdown, physical distancing, flattening the curve, itu bahasa anak Senopati. Saudara-saudara kita di Brebes, Maros, Pacitan, dan di daerah lain bingung. Padahal yang paling dasar dan mudah, cuci tangan minimal 20 detik dengan sabun.”

Baca Juga:  Kolaborasi dengan Anya Geraldine, "CUEK" Capai 7 Juta Viewers di YouTube dalam Seminggu

Dicetuskan akhir April lalu, gerakan ini mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Setidaknya ada 63 lagu yang dibuat musikus yang berasal dari Bandung, Ambon, Jogja, Pulau Geser Maluku, Batulicin Kalimantan, Jakarta, Luwuk, Solo, Lampung, Pacitan, Wonogiri, Malang, Situbondo, Makassar, dan Bali. Diantaranya Jason Ranti, Nova Ruth, Robi Navicula, Dedy Andra & the Backbone, Elda Stars and Rabbit, The Changcuters, Cliff Club 80’s, /rif, Lilik Shaggydog, Richie Got Me Blind dan masih banyak lagi.

“Sejak kami sebar melalui grup Whatssapp, antusias dari kawan-kawan musisi luar biasa,” ujar Dzulfikri Putra Malawi, salah satu penggagas gerakan.

Playlist #20detikcucicorona ini dapat didengarkan di platform pemutar lagu seperti SoundCloud, Bandcamp, Youtube dan Instagram. Seluruh karya juga sudah didaftarkan hak ciptanya melalui lisensi Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 International – Creative Commons. Tujuannya, kata Dzulfikri, agar para musikus dan pendengar bebas menggunakan karya mereka untuk kampanye melawan Corona. Misalnya diputar di fasilitas umum tanpa perlu memikirkan masalah hak cipta.