Konser 42 Tahun U2: Tidak Relevannya Pesan-Pesan Sosial Bagi Masyarakat Singapura

Bagikan:

Untuk kali kedua band rock asal Irlandia, U2 menyambangi Singapura setelah 42 tahun. Di Stadion Nasional Singapura 30 November 2019, suara parau dari Bono terdengar menyanyikan 11 lagu yang diambil dari album ‘The Joshua Tree’ dimana turut menjadi tajuk tur konser U2 kali ini ditambah 12 lagu-lagu populer dari band yang digawangi oleh Bono, The Edge, Adam Clayton dan Larry Mullen, Jr ini.

Ada dua set panggung yang saling terhubung pada konser ini, yaitu panggung kecil dengan memainkan empat buah lagu”Sunday Bloody Sunday”, “New Year’s Day”, “Bad”, dan “Pride” dan seluruh lagu di album ‘Joshua Tree’ dibawakan di panggung utama.

“Terima kasih untuk kesabaran Anda selama 42 tahun ini,” kata Bono, penyanyi berusia 59 tahun ini begitu usai menyanyikan lagu pembuka “Sunday Bloody Sunday” yang menjadi pembuka konser.

Lagu “Ultra Violet” (Light My Way) cukup mencuri perhatian penonton. Ada 60 perempuan yang ditampilkan dalam layar besar itu menggambarkan sosok-sosok perempuan yang memberikan kontribusi di duni diantaranya adalah penulis Maya Angelou dan komedian Hannah Dagsby.

Wajah 60 perempuan itu ditampilkan dalam gambar besar yang terbagi tiga bagian, seperti beberapa lagu lain yang disertai dengan klip yang naratif sesuai tema lagu. Ketika mereka mengentak dengan lagu “Where the Streets Have No Name” layar besar menampilkan jalan tak bertepi di gurun Amerika, dengan kamera yang bergerak terengah menggapai ujung jalan. Sepi. Terasing. Tanpa nama.

U2 memilih lagu “One” sebagai penutup konser mereka malam itu disertai dengan visual bendera Singapura yang terbentang lebar.

Meskipun di gelar di Singapura, ternyata sangat banyak penonton yang datangnya malah dari Indonesia. Hal ini terlihat dengan tidak awamnya orang-orang berbicara di tempat-tempat makan, jalanan dan gedung konser dengan menggunakan percakapan berlogat Jakarta.

Meskipun Bono banyak berbicara mengenai isu-isu politik dan kemanusiaan di konser ini, sepertinya hal itu tidak cukup relevan karena Singapura sangat terkenal sebagai negara yang sangat terstruktur dan rapi, cukup bertolak belakang dengan keadaan di Indonesia. Mungkin seharusnya Bono dan kawan-kawan lebih cocok menggelar tur konsernya kali ini di Indonesia, karena pesan-pesan sosialnya akan lebih relevan didengarkan di negara kita ini.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *