fbpx
banner

Ketika Technicolor Membentuk Industri Film

6 Mei 2020 | Film
Technicolor

Kontributor: MLR

Pecinta film pasti pernah mendengar frasa Technicolor. Kata ini sering muncul di film-film lama rilisan tahun 20an-90an. Gampangnya, Technicolor merupakan sebuah proses penangkapan warna natural sebuah obyek. Teknik pewarnaan dengan ciri khas warna-warni saturasi yang tajam inilah yang merajai industri perfilman dengan judul-judul ikonik seperti “Wizard of Oz”, “Gone With The Wind”, “The Godfather” dan film-film feature terbaik lainnya selama satu abad terakhir.

Di sisi lain, Technicolor seringkali hanya dipandang sebagai teknologi perfilman profesional di masa lampau. Padahal, Technicolor sendiri hadir sebagai kekuatan besar sebuah perusahaan yang paling berpengaruh di Hollywood dan berhasil menciptakan estetika yang membentuk khazanah visual di abad ke-20.

Technicolor, Seni Pewarnaan Film yang Rumit

Perusahaan bernama Technicolor Motion Pictures Corporation dibentuk pada tahun 1914 oleh tiga engineer; Herbert Kalmus, Daniel Frost Comstock, dan W Burton Westcott dengan “tech” pada Technicolor yang merujuk pada MIT (Massachusetts Institute of Technology), universitas tempat Kalmus dan Comstock pertama kali bertemu.

Technicolor sebagai sebuah proses pewarnaan dimulai dengan menggabungkan dua warna primer merah dan hijau ke dalam gambar baru sehingga menghasilkan warna-warni natural obyek yang direkam lewat kamera. Pasca 1932, warna biru dicampurkan pada perekaman gambar bergerak yang bisa kamu lihat pada film Walt Disney berjudul “Flowers and Trees”.

Agar Technicolor dapat menghasilkan film warna berkualitas di masa itu, kamu harus melewati serangkaian proses yang sangat sulit. Saking sulitnya, Technicolor bahkan membuat panduan khusus yang harus diikuti oleh pembuat film di masa itu.

Vox Media menjelaskan proses rumit ini lewat contoh yang disederhanakan. Dari proses perekaman gambar, sebuah kamera Technicolor biasanya akan mengambil dan merekam gambar melalui sebuah prisma yang membagi cahaya menjadi tiga film negatif berwarna merah, biru, dan hijau.

Film negatif ini kemudian dibalik menjadi “matriks” positif yang lantas dipoles dengan warna pelengkap. Jadi, matriks merah menjadi cyan, matriks hijau menjadi magenta, dan matriks biru menjadi kuning. Kemudian pewarna komplementer tersebut ditumpuk dan digabungkan dengan 3 negatif film dasar sehingga menghasilkan visual Technicolor yang cantik.

Technicolor tak hanya sebatas membagi negatif menjadi warna dasar dan komplementer serta menumpuk semuanya menjadi satu kesatuan gambar. Perusahaan tersebut biasanya mempertajam kontras pada gambar dengan cara menambahkan matriks warna hitam dan putih yang juga disebut sebagai “the key”. Hasil dari proses ini bisa kamu lihat pada film “La Cucaracha” (1934), “The Trail of The Lonesome Pine” (1936), dan “The Adventure of Robin Hood” (1938).

Di masa sekarang, sangatlah mudah meniru teknologi pewarnaan Technicolor yang pernah dipakai menghasilkan film-film tersebut dengan teknologi perangkat lunak penyunting video. Bahkan, prinsip pengambilan dan pewarnaan Technicolor menjadi dasar dikembangkannya teknologi-teknologi pewarnaan lain yang muncul setelahnya. Namun, proses perekaman dan penyuntingan gambar ini hanya bagian kecil dari warisan Technicolor dalam membentuk kekayaan dunia visual.

Batasan Teknologi Technicolor dan Kreativitas Industri Perfilman

Dengan teknologi Technicolor di tahun 20an, dunia visual seolah memasuki babak baru. Hanya saja, kemutakhiran teknologi tersebut muncul bukan tanpa batasan yang mudah diakali. Contoh kasusnya bisa kamu lihat langsung di film Wizard of Oz.

Dalam film yang menceritakan kisah petualangan Dorothy di Tanah Oz ini, sang sutradara menampilkan kekontrasan visual dua dunia hingga menciptakan kesan fantasi. Tapi tahukah kamu, jika adegan Dorothy beralih dari pemandangan Kansas yang sephia ke warna-warni Tanah Oz tersebut dibuat bukan melalui manipulasi penyuntingan gambar?

Baca Juga:  "Bombshell", Skandal Seksual di Dunia Media

Kamu enggak bisa menyunting gambar sesuai dengan keinginanmu dengan teknik Technicolor di masa itu seperti halnya kamu menggunakan peranti Adobe Premier di masa kini. Apalagi mengingat kerumitan proses pewarnaan film yang memakan waktu panjang tersebut.

Oleh karenanya, sutradara Wizard of Oz dengan sengaja membuat set film di studio dan mengecatnya dengan warna sephia agar teknik Technicolor bisa menghasilkan gambar Tanah Oz yang warna-warni secara maksimal. Adegan tersebut menunjukan batasan teknis dari teknologi Technicolor; kamu enggak bisa memilih area tertentu untuk diwarnai sesukamu.

Batasan lain dari Technicolor bersumber pada kamera yang mengambil gambar. Ryan Lintelman, seorang kurator Divisi Kebudayaan dan Seni Museum Nasional Smithsonian, mengungkapkan sebuah kamera Technicolor bisa seberat 2-2,5 ton dan berukuran lebih besar daripada kamera perekam gambar bergerak biasa. Ini dikarenakan kamera Technicolor bekerja merekam tiga strip film secara bersamaan.

Enggak hanya itu, kamera Technicolor juga membutuhkan lebih banyak cahaya. Untuk menghasilkan warna-warni cantik seperti di film Wizard of Oz, dalam proses perekaman gambarnya, studio harus dibanjiri cahaya dengan intensitas tinggi. Saking tingginya intensitas cahaya yang dibutuhkan, suhu di studio pengambilan gambar Wizard of Oz dikabarkan mencapai 370C!

Batasan teknis kamera Technicolor tak hanya bersumber pada ukuran dan bobot kamera serta cahaya, tapi juga terhadap suara. Mengingat ukuran dan bobot yang besar, kamera Technicolor akan terdengar sangat bising saat dioperasikan. Juru rekam harus mengakalinya dengan memasang rongga berisi bahan-bahan kedap suara supaya tidak terkontaminasi suara-suara dari sekian banyak kamera Technicolor yang dioperasikan secara bersamaan dalam studio.

Biarpun Technicolor punya banyak batasan dari segi teknis, kelebihan teknologi ini jauh lebih banyak sehingga mendorong para pelaku industri untuk lebih pintar mengakali kondisi yang tak menguntungkan mereka.

Kelebihan utama teknologi ini terdapat pada kemampuannya menangkap tone tertentu dari sebuah adegan, sehingga sekalipun ada dua film rilis di tahun yang sama, keduanya bisa tampak berbeda. Perbedaan itu tak hanya bersumber pada pilihan obyek yang direkam di depan kamera. Tapi juga karena adanya kerjasama antara sutradara dan konsultan Technicolor yang menyesuaikan palet warna film.

Perpaduan kreativitas pelaku industri film dan teknologi di atas tak hanya menjadikan film Technicolor punya ciri khas. Kerjasama ini juga mampu membentuk dunia sendiri yang tak pernah ada di dunia nyata, tempat cerita-cerita itu benar terjadi.

Pengaruh Technicolor Membentuk Industri Perfilman

Ingat sepatu merah rubi di Wizard of Oz? Sepatu itu tampak sangat cantik dan kontras dengan jalanan bata berwarna kuning. Meski ikonik, sepatu merah Dorothy ini awalnya berwarna perak. Pihak Technicolor mengganti warna sepatu Dorothy yang semula berwarna perak di naskah menjadi merah tepat ketika proses perekaman gambar tengah berjalan. Keputusan penggantian warna obyek-obyek ini tak hanya berlaku di Wizard of Oz, tapi di hampir seluruh judul film yang muncul pada tahun-tahun tersebut dan menggunakan teknologi Technicolor.

Secara garis besar, Technicolor memiliki pengaruh yang besar terhadap industri perfilman melalui seorang Natalie Kalmus, istri salah satu pendiri Technicolor, Herb Kalmus. Ia melakoni peran sebagai Technicolor Supervisor dan mengatur tata warna dari tahun 1934-1949. Natalie juga bertanggung jawab memberi saran tata warna untuk lebih dari 300 film besar di masanya, sambil terkadang memberikan arahan pada sutradara di proses perekaman gambar.

Baca Juga:  Disney Indonesia Akan Berkolaborasi Dengan Para Diva Untuk Soundtrack Mulan

Lewat kumpulan esai berjudul Color Consciousness, Natalie Kalmus menjadi sosok yang penting dalam seni film. Esai-esai dalam buku kumpulan tersebut termasuk teori estetika warna yang menentukan arti warna.

Misal, warna merah yang menunjukan bahaya, panas, dan kehidupan; atau hijau yang menunjukan kesan segar, asri, dan bebas.

Pengaruh Natalie sangat besar dari sisi produksi. Dan bersamaan dengan teknologi perusahaan tersebut, Technicolor tumbuh menjadi tolak ukur industri perfilman. Technicolor punya gedung khusus untuk meramu strip film  menjadi film utuh, kamera sendiri, dan proses produksi yang sistematis. Dibandingkan para pesaingnya, Technicolor juga jauh lebih unggul karena tak membutuhkan alat khusus untuk memutar filmnya. Jadi, bioskop manapun bisa memutar film-film bikinan mereka tanpa perlu repot. Sisi produksi dan teknologi ini saling melengkapi dan membuat Technicolor menjadi pilihan populer pada zamannya.

Akhir Technicolor dan Warisannya

Meski populer dan menghasilkan ratusan film ikonik, Technicolor hanya bertahan sekitar 20 tahun dari pertama kali diperkenalkan pada publik. Proses pengerjaannya yang rumit membutuhkan biaya besar serta keterampilan yang sukar dikuasai. Demi menyiasati masalah tersebut, Technicolor pada akhirnya mengadopsi penggunaan film satu strip yang memakan anggaran lebih murah di era 50an. Salah satu film terakhir yang masih menggunakan Technicolor seperti yang diketahui masyarakat luas adalah “Godfather II” (1974).

Walau zaman sudah berganti dan kejayaan Technicolor paripurna, warisan tekik pewarnaan yang rumit tersebut masih bisa dinikmati hingga sekarang. Cetakan film negatif yang telah diwarnai sedemikian rupa masih tampak menawan bahkan di masa sekarang. Proses pewarnaan Technicolor di masa lampau serta teori estetika warna Kalmus turut menginspirasi pemilihan warna-warni ikonik dalam film hingga kini, seperti dominasi warna hijau di The Matrix dan biru gelap keunguan di Stranger Things.

Pada akhirnya, Technicolor bukan hanya gaya estetika film yang dibentuk oleh kamera jadul. Technicolor adalah kesatuan teknis dan produksi, kelebihan dan kekurangan perangkat, serta kemampuan para ahli dalam sebuah ekosistem yang berhasil melahirkan film yang melampaui waktunya. Technicolor bukanlah sebuah tombol atau gerbang. Ia adalah dunia fantastis yang siap memandumu menyelami setiap sudut kedalamannya.