fbpx
banner

Graffiti: Vandalisme atau Seni?

17 Desember 2019 | Seni

Kota Bonn di Jerman punya masalah dengan semprotan grafiti ilegal pada dinding rumah, terowongan, kotak-kotak listrik di pinggir jalan, kereta api dan berbagai fasilitas umumnya. Setiap tahun kota Bonn mengeluarkan sekitar 90.000 Euro untuk menghapuskan grafiti ilegal itu, kata Siegfried Hoss, petugas pemerintahan setempat yang bertanggung jawab atas grafiti. “Ini adalah tindak pidana, perusakan barang milik orang lain,” tegasnya.

Kerusakan Capai Jutaan Euro

Berbagai sasaran yang disukai untuk dijadikan objek menggambar: kotak-kotak surat milik pos, kotak telekom dan perusahaan lainnya. Hukuman bagi pembuat grafiti diperkirakan antara 200 sampai 300 Euro untuk membersihkan grafitinya dari sebuah kotak listrik. Bagi yang tidak punya uang, harus membayarnya dengan kerja sosial. “Ini sudah pernah kami alami. Si pelaku harus ikut membersihkan grafitinya” ujar Hoss.

Legal: Kerap Lebih Indah dan Lebih Tahan

Pada sebuah dinding terowongan untuk pejalan kaki di Bonn terpampang wajah komponis ternama kelahiran kota ini, Ludwig van Beethoven, dalam gaya potret klasik. Karya grafiti dari semprotan kaleng ini dibuat atas pesan kota Bonn.

Baca Juga:  Artist Talk: Xgo (Street Artist)

Latar belakang yang gelap dan warna yang tegas membuat karya grafiti itu memukau. Pelukisnya, Benjamin Sobala mengatakan graffiti “pesanan” dapat membuat lokasi tersebut bebas dari karya graffiti lainnya. Contoh lainnya adalah graffiti di dekat stasiun kota yang dibuat tiga tahun lalu dan sampai kini bersih dari coreng-moreng, tambah Sobala.

Köln Punya Lebih Banyak Kemungkinan

Sobala adalah seniman grafiti dan ditugaskan kota Bonn untuk merukunkan hubungan pembuat grafiti dan komunitas. Dalam berbagai workshop dia menjelaskan tentang kemungkinan bagi seni graffiti. Namun ia juga mengkritik kota Bonn. ” Kota Köln sebenarnya mempunyai jauh lebih banyak lokasi bagi graffiti legal. Banyak di antaranya disediakan oleh pemilik bangunan komersial. Sayang Bonn tidak demikian.” Justru di sini ada kemungkinan untuk mengurangi graffiti ilegal, tambahnya.

Namun Bonn tidak yakin akan penyelesaian semacam itu. Karena satu saat lokasi akan habis terpakai, kata Hoss. Dan penyemprot akan mulai melakukan tindakan terlarang. Sementara Sobala menganjurkan untuk membeli semprotan anti graffiti baru yang 50 kali lebih efektif dari yang sebelumnya.

Baca Juga:  Perspektif Berbeda dari Ilustrator Taiwan Tentang COVID-19

Burka, Koruptor dan Pisang

Motivasi pembuat grafiti ilegal beragam, dari vadalisme sampai ke pemikiran politik. Bila yang dinamakan “tags” bagi seniman grafiti hanya corengan, terdapat sekian banyak karya yang statusnya lebih jelas, Misalnya grafiti pisang oleh seniman Jerman, Thomas Baumgärtel yang menghiasi sekitar 4000 dinding rumah dan galeri.

Di Leipzig, karya Blek le Rats “Madonna mit Kind” bahkan menjalani restorasi dan kini merupakan karya seni yang dilindungi. Di Afghanistan, seniman Shamisa Hassani memerangi penindasan kaum perempuan melalui grafiti burka birunya. Dan di Nairobi, aktivis graffiti menyemproti rumah-rumah tersangka koruptor.

Bagi Benjamin Sobala, ini saja sudah merupakan alasan untuk menyebut graffiti sebagai seni. Namun dirinya ingin mengupayakan agar orang dapat melukis secara legal, karena sebagai pemilik bangunan dia tahu, bagaimana rasanya kalau harus membersihkan dinding rumahnya sendiri dari graffiti.