fbpx

Goethe-Institut Memprakarsai Percakapan di antara Koleksi 4 Museum di 4 Negara

5 Agustus 2021 | Seni

Goethe-Institut, Galeri Nasional Indonesia, MAIIAM Contemporary Art Museum, Nationalgalerie – Staatliche Museen zu Berlin dan Singapore Art Museum meluncurkan  Collecting Entanglements and Embodied Histories, sebuah proyek jangka panjang yang  memungkinkan terjadinya percakapan pertemuan, serta pertukaran gagasan, wacana, dan karya  di antara koleksi sejumlah lembaga yang terlibat. Percakapan ini akan menjadi empat pameran  yang berbeda di Chiang Mai, Singapura, Berlin dan Jakarta, dengan kurator Anna-Catharina  Gebbers, Grace Samboh, Gridthiya Gaweewong dan June Yap. Para kurator merumuskan  landasan proyek ini secara bersama-sama. Kemudian, masing-masing kurator membuat sebuah  pameran yang menjelajahi kekhasan kisah di balik koleksi yang mereka oprek dan memamerkan  karya-karya dari koleksi keempat lembaga yang terlibat. 

Collecting Entanglements and Embodied Histories bertujuan menelusuri bermacam cerita, kontra sejarah, dan bagian sejarah yang hilang, yang gaung semangatnya masih jelas terdengar sembari  mencari bentuk—bentuk pengisahan baru. Proyek ini menjelajahi pertautan kisah-kisah dalam  proses pembangunan bangsa, pembentukan identitas perorangann, serta bagaimana perwujudan  keduanya hadir dalam karya-karya seni dan sejarah pameran. 

“Proyek ini berangkat dari serangkaian percakapan dengan dan di antara para kurator yang  bermula pada tahun 2017. Kami memperlapang ruang percakapan ini agar dapat berlanjut, karena  kami melihat betapa pentingnya upaya penelusuran kembali kelindan sejarah yang berdampak  terhadap proses pembangunan bangsa sembari merenungkan sangkut-pautnya dengan  kenyataan hidup kita hari ini,” kata Dr. Stefan Dreyer, Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia  Tenggara, Australia dan Selandia Baru. 

Mulai sekarang sampai Maret 2022, pemirsa dapat mengikuti program publik bulanan yang  diampu oleh para kurator dan disiarkan di Youtube dan Facebook setiap Kamis terakhir dalam 

sebulan pada pukul 17.00 waktu Jakarta dan Bangkok (UTC+7) / pukul 18.00 waktu Singapura (UTC+8) / pukul 12 waktu Berlin (UTC+2). 

ERRATA, Chiang Mai, MAIIAM Contemporary Art Museum (30 Juli – 1 November 2021) ERRATA adalah babak pertama dalam rangkaian pameran Collecting Entanglements and  Embodied Histories. Pameran ini menyajikan hampir 100 karya dari 38 perupa dan 4 arsip.  Errata, sebuah istilah yang merujuk pada lembaran yang disisipkan dalam publikasi cetak untuk  mengindikasikan pembetulan kesalahan, dalam konteks pameran ini menjadi metafora untuk  koleksi MAIIAM sebagai sebuah errata terhadap sejarah seni modern dan kontemporer Thailand.  Pameran ini dikurasi oleh Gridthiya Gaweewong, bersama Anna-Catharina Gebbers, Grace  Samboh dan June Yap.  

Selama pameran berlangsung, audiens dapat mengikuti program publik yang berlangsung secara  daring maupun luring. Pada tanggal 29 Juli 2021, kurator Gridthiya Gaweewong telah memandu The ‘Body‘ is Not Just Flesh, diskusi daring bersama seniman Arahmaiani, Kawita Vatanajyankur  dan Sutthirat Supaparinya dengan moderator Zoe Butt. Program ini tersedia untuk disaksikan di  kanal Youtube dan Facebook Goethe-Institut Thaland, serta di halaman Facebook Galeri Nasional  Indonesia, Goethe-Institut Indonesien, Goethe-Institut Singapore, Hamburger Bahnhof – Museum  für Gegenwart – Berlin, MAIIAM Contemporary Art Museum dan Singapore Art Museum. 

Gridthiya Gaweewong, Direktur Artistik Jim Thompson Art Center, Bangkok, Kurator Tamu  MAIIAM Contemporary Art Museum, Chiang Mai, berkomentar: “Pameran ini mengungkapkan  kerumitan praktik seni dengan kisah-kisah kecil melalui seni rupa pertunjukan, karya berbasis  media dan karya multidisipliner, terutama dari seniman, khususnya perempuan, yang  menggunakan tubuh mereka dan kamera untuk menangkap dan memberi wujud kepada sejarah  yang saling terjalin.” 

Baca Juga:  Sastrawan Sapardi Djoko Damono Meninggal Dunia

The Gift, diadakan oleh Singapore Art Museum (20 Agustus – 7 November 2021) 

Babak kedua rangkaian pameran ini mengeksplorasi gagasan pertukaran, pengaruh dan jejak  melalui subyek pemberian, atau hadiah. Mulai dari kegiatan sosial sampai pertunjukan budaya  dan konsep filsafat, tindakan memberi hadiah yang tampak biasa itu sesungguhnya ambivalen  dan bersifat paradoks, dan dengan demikian menjadi sumber pesona, kekesalan, serta  perdebatan. Berbeda dengan transaksi ekonomi, hadiah itu lebih dari sekadar objek yang  dipertukarkan. Hadiah mewujudkan keluasan hati sang pemberi, yang kerap menimbulkan  kewajiban di pihak penerima, dan tanpa disengaja mungkin bahkan menjadi beban yang berat.  Pameran ini dikurasi oleh June Yap, bersama Anna-Catharina Gebbers, Grace Samboh dan  Gridthiya Gaweewong dan diadakan di National Gallery Singapore. 

June Yap, Direktur Kuratorial, Koleksi dan Program, Singapore Art Museum, berpesan: “Dengan  berlandaskan konsep pemberian hadiah yang berkesan sederhana, pameran ini dikurasi untuk  mengamati hal-hal berwujud dan tidak berwujud pada dan di sekitar objek, karya seni dan  riwayat, serta bagaimana hal-hal itu saling terjalin. Sama seperti pemberian, hubungan kita  dengan objek, karya seni dan riwayat tidak dapat dipertimbangkan tanpa memperhatikan  hubungan antar orang. Dalam konteks pandemi, paradoks pemberian juga dapat dilihat sebagai  tercermin dalam paradoks mengenai kontak yang diharapkan di tengah ketiadaannya, tetapi juga  mengandung risiko besar.” 

Nation, Narration, Narcosis, Hamburger Bahnhof – Museum für Gegenwart – Berlin (4  November 2021 – 3 Juli 2022)

Dikurasi oleh Anna-Catharina Gebbers bersama Grace Samboh, Gridthiya Gaweewong dan June  Yap, pameran di Berlin ini mengeksplorasi hubungan di antara bentuk-bentuk seni yang kritis – khususnya seni rupa pertunjukan, seni media berbasis waktu, dan instalasi – dan protes politik,  trauma sejarah, dan kisah-kisah sosial. Berbagai mitos dan cerita yang menyertai proses  pembangunan bangsa, yang biasanya bersifat brutal, dipatahkan oleh kisah lain dalam karya karya pada pameran ini. Konsep negara yang terkandung dalam nama “Galeri Nasional”  berhadapan dengan gagasan dengan bentuk lain dari komunitas, solidaritas dan rasa  kebersamaan, diawali dengan konsep Beuys mengenai patung sosial (social sculpture).  

Pameran ini mempertemukan karya-karya lebih dari 50 seniman, arsip berbagai gerakan seniman  serta intervensi oleh para penggagas kolektif budaya. Selain karya-karya Joseph Beuys di  Hamburger Bahnhof ditampilkan juga karya dan dokumen dari koleksi beberapa Museum  Nasional di Berlin dari zaman imperialisme sampai masa kini, serta karya-karya pinjaman dari  museum mitra di Chiang Mai, Jakarta dan Singapura, serta dari para seniman. 

Anna-Catharina Gebbers, Kurator Koleksi untuk Seni Kontemporer di Nationalgalerie im  Hamburger Bahnhof – Museum für Gegenwart – Berlin, menjelaskan: “Nationalgalerie – Staatliche Museen zu Berlin dapat didirikan pada tahun 1871 terutama karena adanya sumbangan kolektor  pribadi dan bankir asal Berlin, Joachim Heinrich Wilhelm Wagener, kepada raja Prusia, dengan  syarat bahwa sebuah galeri nasional harus didirikan di Berlin. Tuntutan akan pendirian sebuah  galeri nasional berhubungan erat dengan tidak adanya ikatan dan sentimen kenegaraan. Museum  sebagai tempat representasi persatuan spiritual dikaitkan dengan harapan untuk mencapai  persatuan politik sebagai negara yang sudah lama didambakan. Tetapi pembentukan negara ini  tidak bertepatan dengan era imperialisme yang baru tumbuh, di mana kepemilikan atas daerah  jajahan dipandang sebagai masalah wibawa nasional dan diperebutkan secara brutal. Kini, Galeri  Nasional di Berlin menampung salah satu koleksi terbesar karya-karya Joseph Beuys, seniman  pencetus konsep yang mencakup tindakan manusia yang diarahkan untuk membangun struktur  dan wujud masyarakat.” 

Baca Juga:  Darbotz Berkolaborasi dengan Authenticity dalam Kampanye #EkspresiBaruDariRumah

Tetapi dari konsep masyarakat manakah kita seharusnya bertolak? Bagaimana narasi-narasi  linear yang dikaitkan dengan nasion dan negara dapat dilengkapi dengan bentuk-bentuk  komunitas yang lain, dengan narasi-narasi plural dan dengan kesimultanan dan kesetaraan cara  berpikir yang berbeda-beda? Dan peran seperti apa yang dapat diemban oleh institusi museum  dalam masyarakat plural di masa mendatang?” 

Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak, Jakarta, Galeri Nasional Indonesia (28 Januari – 28 Februari 2022 – TBC) 

Sekitar masa Konferensi Asia-Afrika (Bandung, 1955), pameran berorientasi geopolitik mulai  merebak di seluruh dunia. Di antaranya tercatat Sao Paulo Biennale (perdana 1951), Alexandria  Biennale (perdana 1955), dan Biennial of Graphic Arts (Ljubljana, perdana 1955). Satu dasawarsa  kemudian ASEAN dibentuk. Memasuki tahun 1981, pameran keliling di antara negara-negara  anggota ASEAN mulai berlangsung. Pada masa itu juga terjadi lonjakan pameran internasional  yang tidak berkiblat ke Barat seperti Fukuoka Asian Art Triennale (perdana 1979), Asian Art  Biennale (Bangladesh, perdana 1981), Australia and the Regions Exchange (perdana 1983), dan  Havana Biennale (perdana 1984).  

Lingkup Gerakan Nonblok (didirikan 1961) mungkin terlampau luas untuk upaya seperti itu, atau  kita bisa berasumsi bahwa Sao Paulo Biennale mencakup “kawasan” tersebut, mengingat  pendekatan awal yang digunakan untuk menemukan seniman dan mengirim karya adalah kerja  sama antarpemerintah. Apa yang dapat kita pelajari dari berbagai pertukaran tersebut? Apakah  pertukaran-pertukaran itu semata gerak-gerik simbolik? Seperti apa hubungan para seniman? 

Betulkah terjadi pertukaran di antara para perorangan seniman ini? Pameran ini dikurasi oleh  Grace Samboh, bersama Anna-Catharina Gebbers, Gridthiya Gaweewong dan June Yap.  

Grace Samboh, peneliti dan kurator, menerangkan: “Galeri Nasional Indonesia (Galnas) menjadi  rumah untuk lebih dari 1898 karya seni modern dan kontemporer. Pada umumnya, Galnas mewadahi pameran eksternal dan menjalankan program-program yang diprakarsai oleh  Direktorat Seni dan Budaya. Baru dalam tujuh tahun terakhir Galnas mulai memasang koleksinya  dalam galeri permanen. Minat saya sebagai kurator sederhana saja. Saya ingin memanfaatkan  infrastruktur yang sudah ada. Saya ingin melihat bagaimana negara menyapa masyarakat serta  pekerja seni sembari menghidupkan koleksi mereka melalui ajang pameran, seminar dan  peragaan koleksi. “ 

Untuk kabar terkini mengenai pameran dan program publik dalam rangka Collecting  Entanglements and Embodied Histories, silakan kunjungi collectingentanglements.net. 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *