fbpx
banner

Gelombang Terakhir dari Irwin Ardy

16 Mei 2020 | Musik
Irwin Ardy

Setelah lama tidak merilis lagu, Solois Irwin Ardy tiba-tiba merilis Sebuah EP berjudul ‘Gelombang Terakhir’. EP ini berisikan 6 lagu, termasuk 1 lagu ‘Bermuda’, yang sudah rilis lebih dulu pada Record Store Day 2018.

Ketika ditanya tentang konsep EP, “Momentum awalnya adalah karena #dirumahaja sih. Dampaknya hebat juga ya pikir saya. Pola pikir, pola tidur, pola kerja, pola makan, dan banyak pola yang lain seperti ada pergeseran gituh. Seolah-olah hidup ini seperti sedang dikalibrasi ulang. Seiring waktu, banyak pemikiran-pemikiran baru muncul. Dari banyak pemikiran itu, salah satunya ya merilis karya seni”, Irwin bercerita.

“Mulai deh nyari-nyari di komputer materi apa yang masih tersisa dan layak diperdengarkan. Terkumpul lah sisa-sisa terakhir ini. Setelah materi EP ini, saya belum bikin apa-apa lagi. Bermuda dan Standard Pop Song itu sebenarnya satu angkatan dan sudah dirilis sebelumnya cuma menurut saya kurang dikenal, jadi pikir saya kenapa nggak diangkat lagi dengan remastering yang lebih asik. What Matters The Most yang paling lama di EP ini. Produksinya di 2014 bareng Christo Putra (Floyd/Bangkutaman) dan dari awal emang saya siapin dua versi drumming.”

Baca Juga:  Bersama Sheryl Sheinafia, Petra Sihombing lanjutkan Produktifitas Lewat "Astrologi"

“Yang dirilis tahun 2014 bareng Ripstore Asia adalah versi folk istilahnya. Dominan gitar akustik, suara koor, sama drumming pake stik rotan. Satu lagi direkam versi pake stik kayu dan saya tambahin permainan gitar elektrik dan saya simpen aja, dan dirilis tahun 2020 ini. Jadi yang versi tahun 2020 ini bisa dibilang versi Rock lah ya.”

Lalu Irwin melanjutkan ceritanya. “I Believe saya masukin yang versi demo. Beda rasa sama yang versi Bread and Butter tapi buat saya lebih personal dan liriknya terlalu kuat untuk dilewati. Pikir saya, masukin satu kali ya materi dari Bread and Butter. Me and My Car juga sebenernya asik, cuma too much jadi rilis Soundcloud aja lah kapan-kapan. Please Wait, Linda Lee adalah lagu coret-coret iseng lucu-lucuan yang saya bikin sama istri saya dulu jaman Bread and Butter sebenernya dan Surat Buat Teman yang tadinya judulnya Kita Berbeda adalah lagu terakhir yang saya produksi.”

“Surat Buat Teman itu sempet saya tanyakan pendapat ke temen-temen dan minta pendapat mereka tapi feedback mereka semua belum sempet saya tindaklanjuti karena keburu semua perlengkapan bermusik dan recording dijual. Ada banyak percobaan buat lagu itu. Dan mungkin saya berhutang sama Prisilla Desfiandi kali ya. Dia sempet bantuin untuk take drum supaya lebih kerasa organik, tapi belum sempet selesai juga. Sisil dari awal udah punya intensi baik sama lagu Surat Buat Teman meskipun bukan drumming-nya dia yang kepake di EP ini. Tapi proses saya bisa percaya diri dengan lagu ini juga sangat dibantu sekali sama Sisil.”

Baca Juga:  'APA'? Single Terbaru Petra Sihombing bersama Teddy Adhitya ditengah Pandemik

“Benang merahnya ada di bagian lirik sebenernya. Secara musikalitas nggak ada. Secara konsep artwork apalagi. 6 lirik di sini nulisnya emang benar-benar lahir dari momentum hidup yang serius sekali. Dan itu patut disyukuri dong karena sudah dilewati dengan baik. Momentum hidupnya personal sekali tapi ketika jadi lirik, sepertinya bisa relevan dengan pengalaman orang banyak.”

Apa bakal dibawa ke panggung?

“Kayanya nggak deh. Mungkin saya lebih nyaman ke producing daripada performing. Udah hampir 2 tahun nggak manggung, pastinya karatan juga ya” Tutup Irwin.