fbpx
banner

Facebook Kritik Film Dokumenter “The Social Dilemma”

6 Oktober 2020 | Film
Facebook Kritik Film Dokumenter "The Social Dilemma"

Sejak dirilis pada awal September lalu, film dokumenter Netflix “The Social Dilemma” telah menarik banyak perhatian publik. Film ini bahkan telah masuk ke dalam kategori 10 film yang paling diminati di Netflix.

Secara garis besar, The Social Dilemma berisi pandangan dari para mantan pegawai dan eksekutif perusahaan raksasa teknologi dan media sosial terkait bagaimana sebuah media sosial bekerja dan mendulang pengguna.

Adapun mereka yang buka suara di film ini diantaranya pernah bekerja di Facebook, Google, YouTube, Twitter, Instagram, hingga Pinterest.

Film dokumenter ini memberi gambaran betapa “menyeramkannya” media sosial yang sudah melekat dengan kehidupan manusia.

Sebagai salah satu perusahaan yang mendapat sorotan, Facebook pun akhirnya buka suara. Pihak Facebook mengatakan bahwa film dokumenter The Social Dilemma memberikan gambaran yang sangat berbeda dengan realita. Bahkan, Facebook mengatakan bahwa film tersebut hanya menjadikan media sosial sebagai “kambing hitam” untuk masalah sosial yang kompleks.

Baca Juga:  Berjuang Melawan Kanker, Aktris Ria Irawan Meninggal Dunia

“Pembuat film tidak menyertakan pandangan dari mereka yang saat masih bekerja di perusahaan (media sosial), atau penjelasan pakar yang memiliki pandangan berbeda,” tulis Facebook dalam keterangan resminya. Facebook juga mengatakan, film tersebut tidak memperlihatkan upaya-upaya yang telah dilakukan perusahaan untuk mengatasi berbagai masalah.

“Sebaliknya, mereka (pembuat film) hanya mengandalkan komentar-komentar dari mereka (mantan pegawai) yang tidak berada di perusahaan selama bertahun-tahun,” kata Facebook.

Dalam pernyataan resminya, Facebook menjabarkan sejumlah poin yang dianggap tidak tepat dalam film The Social Dilemma. Dalam film dokumenter tersebut, perusahaan media sosial seperti Facebook dikatakan dengan sengaja merancang agar pengguna bisa kecanduan bermain medsos. Hal itu pun dibantah Facebook.

Dalam pembelaannya, Facebook menyebut telah mengimplementasikan perubahan sistem pada 2018 lalu, yang memberikan dampak pada berkurangnya waktu penggunaan Facebook hingga 50 juta jam per hari.

Lebih lanjut, Facebook juga membantah isu terkait penerapan algoritma yang diklaim dapat menyajikan informasi terkait berita politik tertentu, sehingga dapat mempengaruhi pola pikir penggunanya. Perusahaan juga menolak jika mereka dikatakan sebagai platform yang mendulang keuntungan dari berita hoaks yang tersebar.

Baca Juga:  Music Video ‘Stormbreaker’ Amanda Fedora yang Disutradarai Tompi Tembus 160 Ribu Views di YouTube

“Facebook satu-satunya perusahaan yang bermitra dengan lebih dari 70 pemeriksa fakta. Misinformasi yang berpotensi menimbulkan kekerasan, cedera fisik, dan penindasan dihapus langsung, termasuk misinformasi tentang COVID-19,” lanjut Facebook.