fbpx
banner

Disko Di Rumah, Cara Baru Bersenang-Senang Dikala Pandemi

19 Agustus 2020 | Gaya Hidup
Disko

Lampu strobo menyala di lantai dansa yang terlihat kosong, ketika seorang DJ mendendangkan musik elektronik dari kelab malam Singapura melalui layanan live streaming untuk dinikmati para clubbers yang sedang terkurung di rumah akibat pandemi virus corona COVID-19.

Virus corona yang tengah melanda dunia telah memaksa tempat hiburan malam dari London ke New York tutup, tetapi para DJ yang inovatif mulai menggelar pesta secara online untuk menghibur penggemarnya.

Setelah Singapura memerintahkan penutupan banyak tempat hiburan akibat peningkatan jumlah infeksi corona, kelab malam populer Zouk mengadakan pesta bertema cloud-clubbing, dimana acara disko yang dipandu enam DJ disiarkan melalui aplikasi.

DJ Nash D mengakui pada awalnya dia merasa aneh untuk melakukan clubbing online ini.

“Ketika Anda bermain dalam ruangan yang penuh dengan orang, Anda dapat merasakan energinya kembali,” kata DJ, nama asli Dhanish Nair, kepada AFP.

Begitu juga dengan komentar yang masuk melalui aplikasi live streaming Bigo Live, clubbers bisa mengirimkan hadiah virtual kepada DJ seperti lonceng dan kepingan salju yang nantinya dapat ditukar dengan uang tunai.

Baca Juga:  ASUS ROG dan IKEA Berkolaborasi Rilis Furnitur Gaming

Kelab malam bermitra dengan perusahaan peralatan game Razer dan aplikasi streaming, mendatangkan 200 ribu total penonton untuk acara yang digelar selama tiga jam. Saat puncak, 5.600 orang menonton melalui aplikasi.

‘Menari bersama, secara terpisah’

Di China, dimana virus pertama kali muncul pada tahun lalu, DJ dan tempat hiburan malam memulai pertunjukan live streaming pada awal Februari ketika wabah berada di puncaknya.

Tempat-tempat di Shanghai dan Beijing memelopori clubbing online melalui Douyin, aplikasi yang mirip TikTok, yang juga memungkinkan penonton untuk memberi hadiah untuk para DJ.

Kelab malam Beijing One Third mendatangkan lebih dari 1 juta penonton dan menghasilkan hampir 2 juta yuan (sekitar Rp4,6 miliar) dari imbalan para penontonnya selama siaran langsung lima jam, menurut situs berita iFeng.

Kelompok pertunjukan The Dance Cartel mulai mengadakan pesta disko bertajuk Social Disdance dengan tema ‘malam dansa bersama, secara terpisah’ tiga kali seminggu.

Peserta menari satu sama lain melalui aplikasi panggilan video Zoom, dengan beberapa mengenakan kostum dan yang lainnya menyiapkan lampu disko berwarna-warni.

Baca Juga:  Sains dan Tim di Balik NEXT% dan Overview Nike Air Zoom Tempo Next%

Pesta-pesta itu bisa dinikmati secara gratis, tetapi penonton didorong untuk memberikan sumbangan kepada para DJ dan pembawa acara.

Dengan jumlah kematian global akibat virus sekarang di atas 42 ribu dan tidak ada tanda-tanda pandemi melambat, clubbing online hanya tampaknya bakal menjadi lebih populer.

Keputusan Singapura untuk menutup kelab malam datang ketika pihak berwenang perlahan-lahan memperketat pembatasan perjalanan menyusul lonjakan kasus infeksi virus corona, dengan negara sejauh ini telah melaporkan lebih dari 900 infeksi dan tiga kematian.

Meskipun ada tantangan, beberapa penampil perlahan-lahan mendukung gagasan clubbing online.

Di Indonesia sendiri fenomena ini juga sudah terjadi selama masa pandemi. Terlihat dengan makin aktifnya ECHOES maupun BIKO Grup dengan Duckdown Bar-nya menggelar acara live DJ yang dapat diakses melalui saluran YouTube mereka di akhir pekan.