fbpx
banner

Dibalik Kontroversi Pramoedya Ananta Toer dan Film Bumi Manusia

20 Agustus 2019 | Film
Bumi Manusia

Sempat menjadi perdebatan netizen beberapa tahun lalu saat novel karangan Pramoedya Ananta Toer ini akan dibawa ke layar lebar, kini film Bumi Manusia telah secara resmi diputar di bioskop dibawah bendera rumah produksi Falcon Pictures.

Film yang dibintangi oleh pemeran dari film Dilan, Iqbaal Ramadhan ini menggambarkan persepsi milenial saat ini mengenai kejadian 1965 yang sudah berubah dibanding dengan masa itu dimana kejadian 65 sangat ditutupi oleh pemerintah era Orde Baru di masa itu.

Novel Bumi Manusia sendiri bercerita tentang perjuangan seorang tokoh bernama Minke yang memperjuangan kedudukan pribumi melawan diskriminasi Belanda pada masa kolonial di awal abad-20.

Novel Bumi Manusia sendiri pernah dilarang terbit pada tahun 1981 oleh Kejaksaan Agung RI dengan surat larangan bernomor SK-052/JA/5/1981. Sejak larangan itu keluar, di masa itu banyak orang mahasiswa dipenjara dengan tuduhan menyimpan dan mengedarkan buku itu. Novel Bumi Manusia sendiri kini sudah dijual bebas. Namun surat larangan Kejaksaan Agung itu belum pernah dicabut. Asal muasal pelarangan ini karena sang penulis, Pram adalah tokoh yang dekat dengan Lembaga Kesenian Rakyat atau LEKRA, salah satu organisasi kebudayaan di bawah Partai Komunis Indonesia.

Baca Juga:  Vidio.com Gratiskan Layanan Selama Masa Pandemik COVID-19

Sejumlah orang yang telah menyaksikan film ini menyambut dengan positif dengan membuat cuitan di Twitter, “Sebagus itu sih #BumiManusia , keluar bioskop mewek dong dan yang bikin terharu setelah film selesai satu studio hampir pada standing applause.”

Mantan aktvisi 98 dan politisi Budiman Sudjatmiko juga membuat cuitan, “Awal kesadaran kebangsaan Indonesia layak difilmkan lewat #BumiManusia.”

Ariel Heryanto, dosen di Direktur Herbert Feith Centre dan profesor di Monash University Australia juga menyambut baik peluncuran film yang didekatkan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia.

“Saya sih menyambut baik kalau ada perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia dikaitkan dengan jasa-jasa orang-orang komunis. Sudah saatnya lah kita mengakui jasa-jasa orang-orang kiri – termasuk yang komunis – dalam perjuangan kemerdekaan RI.” kata Ariel dikutip dari BBC Indonesia.