fbpx
banner

Criteo: Terobosan Bersejarah bagi Aplikasi Commerce di Indonesia Selama COVID-19

5 Oktober 2020 | Gaya Hidup
Criteo: Terobosan Bersejarah bagi Aplikasi Commerce di Indonesia Selama COVID-19

Criteo S.A. (NASDAQ: CRTO), perusahaan teknologi global yang memperkuat para pemasar dunia dengan iklan tepercaya dan berpengaruh, hari ini meluncurkan hasil studi mengenai dampak COVID-19 pada jumlah pengunduhan dan penggunaan aplikasi di Indonesia. Penelitian Criteo mengungkapkan bahwa saat ini aplikasi sangat diperlukan pengguna untuk berbelanja, terhubung dengan orang yang mereka cintai, dan juga hiburan.

Data Criteo menunjukkan bahwa 55% konsumen di Asia-Pasifik mengunduh setidaknya satu aplikasi belanja (ritel, makanan, atau toko bahan makanan/alkohol) selama puncak wabah COVID-19. Tren serupa juga terjadi di Indonesia, dengan 49% konsumen Indonesia melakukan hal yang sama. Selain itu, hampir 3 dari 10 responden mengatakan bahwa mereka telah mengunduh aplikasi belanja ritel baru dalam beberapa minggu terakhir.

“Dari membeli bahan memasak, makanan jadi, hingga hiburan rumah dan olahraga, survei kami menunjukkan bahwa sekarang, pengguna aplikasi di Indonesia lebih bergantung pada aplikasi, dibandingkan dengan sebelumnya. Selama beberapa bulan terakhir, pengguna aplikasi di Indonesia tidak hanya menghabiskan waktu lebih banyak di aplikasi favorit mereka, tetapi mereka juga menemukan aplikasi baru,” kata Pauline Lemaire, Direktur Komersial untuk Konsumen Skala Besar, Asia Tenggara di Criteo.

“COVID-19 telah meningkatkan pentingnya aplikasi bagi pengguna karena kenyamanan dan kemudahan yang diberikannya selama ini. Kami melihat bahwa ini dapat terus menjadi tren bahkan pada tahap pemulihan setelah lockdown sekalipun, karena konsumen telah merasakan dan menikmati manfaatnya. Brand dan penjual harus membangun kehadiran mereka di lingkup ini agar tetap kompetitif dalam jangka panjang,” lanjutnya.

Data Criteo
Persentase Responden yang Mengunduh Aplikasi menurut jenisnya

Dengan adanya himbauan untuk tetap di rumah dan banyaknya bisnis yang belum beroprasi secara normal, studi Criteo melihat bahwa pengguna aplikasi Indonesia menghabiskan lebih banyak waktu pada aplikasi favorit mereka, sembari menemukan aplikasi favorit baru.

  • Sekitar 56% konsumen mengunduh aplikasi jejaring sosial selama periode pemutus penyebaran COVID-19 di Indonesia.
  • Aplikasi jejaring sosial adalah aplikasi yang paling banyak diunduh sebelum COVID-19, diikuti oleh Podcast, musik dan audio, dan game. Selama COVID-19, penggunaan aplikasi untuk jejaring sosial (70%), podcast, musik dan audio (51%) dan game (41%) mengalami peningkatan tertinggi.
  • Pengguna aplikasi Indonesia menyukai aplikasi hiburan. Hampir 1 dari 2 telah mengunduh aplikasi game pada kuartal terakhir.
Data Criteo
“Dari mana kamu mengetahui tentang aplikasi yang telah diunduh  
karena perubahan gaya hidup yang disebabkan oleh COVID-19?”

Pendorong pengunduhan aplikasi 

Iklan di jejaring sosial dikutip sebagai alasan utama mengapa pengguna mengunduh aplikasi selama periode pemutus penyebaran COVID-19 di Indonesia, dengan 55% konsumen di Indonesia mengatakan bahwa mereka mengunduh aplikasi setelah melihat iklan di jejaring sosial. Penelitian Criteo juga menemukan bahwa iklan adalah cara yang sangat penting untuk mempromosikan aplikasi di Indonesia. Secara spesifik, 7 dari 10 pengunduh di Indonesia mengatakan bahwa mereka mengunduh aplikasi setelah melihat iklan di jejaring sosial, TV, atau aplikasi lain.

Baca Juga:  Sejarah Jam Tangan G-SHOCK Yang Ikonik

Informasi dari mulut ke mulut juga menjadi pengaruh penting dalam mendorong terjadinya unduhan dengan 44% responden menyatakan bahwa mereka menggunakan aplikasi berdasarkan rekomendasi dari teman, keluarga, atau rekan kerja. Ini serupa dengan rata-rata Asia Pasifik sebesar 45%.

Data Criteo
Di kategori mana penggunaan aplikasi meningkat karena COVID-19?

Sepertiga pembeli di Indonesia meningkatkan penggunaan aplikasinya selama periode pemutus penyebaran COVID-19 dengan perilaku pengguna berikut:

  • 70% konsumen meningkatkan waktu mereka di aplikasi jejaring sosial, diikuti oleh podcast, musik dan audio sebesar 51% dan bermain game di 41%
  • 44% menggunakan aplikasi pengiriman makanan beberapa kali seminggu, 35% untuk pengiriman bahan makanan/alkohol, dan 34% untuk belanja ritel
  • 20% menggunakan aplikasi pendidikan untuk orang dewasa beberapa kali seminggu, menandakan keinginan pengguna untuk meningkatkan keterampilan mereka sendiri selama periode ini – Saat bekerja dari rumah, sepertiga pembeli di Indonesia menggunakan aplikasi konferensi video beberapa kali seminggu, 32% menggunakan aplikasi keuangan, 31% aplikasi produktivitas, dan 28% aplikasi pereda stres.
Data
Generasi yang lebih muda lebih cenderung melakukan pembelian dalam aplikasi dibandingkan yang lebih tua 

Penggunaan aplikasi berdasarkan demografi 

Survei Criteo menunjukkan bahwa Generasi Z & Milenial sedikit lebih mungkin untuk melakukan pembelian dalam aplikasi dibandingkan dengan generasi terdahulu, terutama untuk aplikasi hiburan (43%), dan aplikasi belanja (36%). Mereka memiliki preferensi yang lebih tinggi untuk penggunaan aplikasi seperti yang diamati di sebagian besar kategori produk bahkan sebelum COVID-19 melanda.

Gen Z & Milenial juga lebih cenderung melakukan pembelian dalam aplikasi terlepas dari adanya COVID-19 dibandingkan dengan Gen X, Boomers & Silent. 72% Gen X, Boomers & Silent mengatakan bahwa mereka mengunduh aplikasi belanja dan utilitas karena gratis. 72% Gen Z & Millennials mengunduh aplikasi belanja gratis dan 36% melakukan pembelian dalam aplikasi di aplikasi belanja. 15% dari mereka juga mengunduh aplikasi belanja berbayar. Selain itu, 74% Gen Z & Milenial mengunduh aplikasi utilitas gratis dan 30% di antaranya melakukan pembelian dalam aplikasi dan 17% dari mereka mengunduh aplikasi utilitas berbayar.

Tantangan pasca COVID-19 untuk brand dengan aplikasi 

“Kami melihat potensi besar aplikasi di pasar Indonesia untuk dapat berhasil dalam melakukan engagement dengan konsumen karena kami melihat bahwa konsumen telah menghabiskan lebih banyak waktu di dalam aplikasi selama periode ini. Pengalaman mereka sekarang akan sangat membentuk pandangan mereka tentang brand, dan demikian juga hubungan jangka panjang mereka dengan brand tersebut. Karena itu, brand harus meningkatkan upaya retensi dan penggunaan aplikasi. Brand perlu membangun kepercayaan dengan membuktikan bahwa mereka mampu mengelola data pribadi dengan aman dan menawarkan pengalaman pengguna yang menyenangkan di platform mereka. Brand yang dapat mencapai semua ini akan memiliki dasar yang kuat dalam mempertahankan eksistensi aplikasinya,” jelas Lemaire.

Baca Juga:  Vollebak Ciptakan 'Full Metal Jacket' Anti COVID-19

Tantangan utama bagi brand pasca COVID-19 adalah menjaga engagement dengan pengguna secara konsisten di aplikasi mereka. Khususnya untuk Generasi Z dan Milenial dimana 27% diantaranya menyatakan bahwa mereka sangat mungkin menghapus aplikasi yang diunduh setelah pandemi selesai. Selain itu, mayoritas pengguna aplikasi di Indonesia memiliki lebih dari 10 aplikasi di perangkat selulernya, 41% pengguna mengatakan mereka hanya menggunakan 6-10 aplikasi setiap hari, dan 37% menggunakan 1-5 aplikasi.

Selain itu, brand harus berhati-hati saat menangani segala bentuk informasi pribadi. Pengguna aplikasi seluler Indonesia tidak keberatan dengan iklan selama mendapatkan konten gratis sebagai gantinya, terutama generasi muda. Secara keseluruhan, 6 dari 10 pengguna aplikasi seluler Indonesia menerima menonton atau mendapatkan iklan di aplikasi yang menawarkan konten gratis.

Poin Penting untuk brand 

Prioritaskan pengalaman pelanggan: brand harus lebih fokus pada peningkatan pengalaman pelanggan di aplikasi. Penargetan kembali pengguna aplikasi bisa menjadi strategi yang sangat efektif untuk retensi pengguna. Brand akan dapat memanfaatkan kumpulan data yang sangat besar untuk memberikan rekomendasi produk yang benar-benar dipersonalisasi untuk setiap pengguna, sehingga meningkatkan konversi.

Luncurkan program loyalitas dan insentif: brand dan pelaku ritel harus menerapkan program insentif untuk membuat pengguna aplikasi terbaik mereka terus terlibat dan mendapatkan penghargaan karena tetap setia pada platform brand. Program rujukan aplikasi bisa sangat efektif dalam mendorong pengguna setia untuk membantu mengembangkan basis pengguna aplikasi suatu brand.

Memanfaatkan notifikasi, email, dan iklan dalam aplikasi: Selain brand harus sadar untuk tidak melakukan komunikasi berlebihan atau mengirim spam kepada pengguna mereka, brand perlu mengambil pendekatan yang lebih aktif untuk melibatkan kembali pengguna yang tidak aktif dan pengguna baru platform mereka. Brand dapat meningkatkan penggunaan aplikasi dengan mendorong produk baru dan tren, atau melalui promosi seperti diskon dan pengiriman gratis.