fbpx
banner

Artist Talk: Xgo (Street Artist)

13 April 2020 | Seni

Kali ini kami akan sedikit membahas mengenai perkembangan street art di salah satu kota yang ada di Jawa Timur, yaitu Surabaya. Sebagai ‘ibu kota kedua’ setelah Jakarta, Surabaya ternyata memiliki cerita tersendiri mengenai seni jalanan ini. Berikut interview singkat kami dengan Xgo, salah satu street artist dari kota Pahlawan ini. 

Bisa diceritakan proses awal hingga menjadi seorang Xgo yang sekarang?

Basicnya sih saya dari kecil suka gambar (corat-coret) di media apapun mulai dari buku, pintu kamar, meja kelas, baju sampe sayuran (wortel, timun dll) di dapur saya gambari. Selain itu dari kecil saya sudah terbiasa gumbul dengan teman-teman Bapak yg seniman, kebetulan bapak seorang seniman lukis. Mulai ikut ikut lomba gambar sejak TK dan banyak ikut ikut lomba gambar mewakili musholla daerah rumah. Karena dulu pas kecil sering ngaji di mushola Baiturahman dan selalu diikutsertakan untuk lomba menggambar antar kecamatan, kota sampai Nasional.

Kalau untuk kesukaan dengan dunia gambar grafis malah banyak dipengaruhi oleh tetangga saya. Ada tetangga yang dulu pas saya kecil suka bikin seni stencil  dan dicetak di kaos, trus pas SMP tiap berangkat sekolah selalu liat mural di dinding rumah tetangga di gang seberang rumah. Untuk kreatifitas lainnya yg dipengaruhi oleh mas Nanang, tetangga yang suka ngajak anak-anak kecil mainan breakdance, bikin ondel-ondel dll. Saat SMP juga baru pertama kali bikin mural di dinding kamar teman.

Tahun 2000 -2001 pertama kali saya mengenal kultur komik underground dengan teman-teman Punk Surabaya (Garasi 337 dan Oret 101). Kemudian mulai membuat komik sendiri dan beberapa kali ikut serta di pameran komik underground dengan menggunakan nama  Bunuhdiri Comic. Di tahun itu juga mulai sering keliling untuk bombing bikin graffiti, mural dan tempel tempel poster aksi di dinding dinding kota.

2008 saya membuat komunitas gambar KGBD (komunitas gambar bunuhdiri) yang fokus pada  karya-karya komik, poster, mural dll. Di Tahun 2011 saya membuat serikat mural bersama teman-teman street art Surabaya hingga sekarang dibawah payung Bunuhdiri studio.

Orangtua  punya pengaruh banyak dalam karier berkesenian kamu?

Bapak punya pengaruh besar sekali dalam perjalanan dan dunia berkesenian saya, khususnya dalam penempaan mental. Saya berseberangan dengan sudut pandang bapak soal perspektif berkesenian, dimana beliau memiliki pengaruh kuat di fine art sedangkan saya menyukai gaya gaya kesenian low art/seni terapan. Contoh gemblengan mental dari bapak dalam karier berkesenian saya seperti ketika saya banyak menang lomba gambar/mewarnai dan bawa pulang piala dan hadiah, bapak selalu memberikan ekspresi datar dan beliau bilang “percuma menang lomba tapi tidak membawa pulang uang.” Itu yg membuat saya terpacu.

Baca Juga:  Empat Skenario Masa Depan Seni Indonesia Pascapandemi

Apa itu SMS?

Serikat Mural Surabaya merupakan kumpulan (serikat) seniman yang bergerak di bidang street art (graffiti, mural, poster art, stencil dan urban art) yang terbentuk tahun pertengahan 2011. Komunitas ini fokus terhadap seni mural jalanan dan mural yang bersifat pesan-pesan sosial, kemanusiaan, lingkungan dan juga pergerakan.

Beberapa agenda/program kegiatan yg masih berjalan sampai saat ini diantaranya movement #muralkampungproject, forum diskusi street art tahunan GARIS KOTA, gerakan #streetartmelawan, pesona mural Surabaya, jamming street art tahunan Imsak Kurang 3 menit, Pameran urban Muda Liar Berbahaya dll. Selain itu SMS aktif untuk bekerja sama dengan pihak-pihak lain seperti lembaga, institusi, kampus, sekolahan untuk kegiatan workshop, pameran, lokakarya dan lain sebagainya. Selain itu SMS juga masih aktif untuk bombing turun kejalan sampai sekarang membuat mural-mural street art di dinding-dinding kota Surabaya dan kota-kota lain.

Apa itu Street Art Melawan?

Sebuah gerakan solidaritas street art yang diinisiasi oleh SMS. Awal munculnya gerakan Street art melawan ketika tahun 2013 SMS berseteru dengan pihak satpol PP Surabaya terkait masalah penangkapan 12 anggota SMS (pelajar) yang tertangkap dan dimasukkan di Liponsos. SMS melakukan protes terhadap penempatan 12 anak tersebut oleh satpol PP dimana Liponsos/Dinsos merupakan tempat bagi gelandangan, orang gila dan semacamnya. Kemudian SMS memulai gerakan protes dengan membombardir seluruh dinding kota di Surabaya dan beberapa movement solidaritas kelompok street art lainnya di kotanya masing-masing dengan gerakan tagging jalanan bertuliskan STREET ART MELAWAN. gerakan protes selama seminggu ini akhirnya membuat pihak satpol dan pemkot mau berdiskusi mengenai permasalahan ini.

Gerakan street art melawan berlanjut sampai sekarang dengan bentuk bentuk protes atas ketidakadilan dan lain-lain dalam bentuk street art. Seperti gerakan street art melawan yang melawan terhadap kebijakan DPR terkait RUU yang tidak berpihak kepada rakyat, gerakan street art melawan terhadap teror bom di Surabaya, gerakan street art melawan terhadap omnibus law dan kasus-kasus lainnya.

Karya kamu sudah sampai mana saja?

Untuk karya mural street art, beberapa sudah saya tempatkan di dinding-dinding beberapa kota di Indonesia, seperti Malang, Madura, Banyuwangi, Denpasar, Lombok, Jogja, Jakarta hingga Banjarmasin.

Untuk karya mural di media non dinding tembok jalanan, seperti media kanvas, board, poster art beberapa sudah dikoleksi oleh kolektor di Surabaya, Bali, Jakarta, Spanyol, Australia, Amerika hingga KJRI di Osaka Jepang.

Ada cerita/pengalaman saat mengerjakan proyek komersial?

Pengalaman project (mural) komersil paling jancukan yang pernah saya alami ketika bekerjasama dengan pihak salah satu mall di Sidoarjo. Saat itu kami mendapat  project mural berukuran 15 x 35m di dinding suatu mall tetapi ternyata management dari pihak mall  kurang profesional, bahkan secara menghambat kerja kami di lapangan. Pada akhirnya saya mengembalikan DP charge project muralnya. Saya dan tim seakan akan ditinggal begitu saja dalam project ini dan tidak ada pertanggungjawaban sama sekali.

Baca Juga:  Darbotz Berkolaborasi dengan Authenticity dalam Kampanye #EkspresiBaruDariRumah

Cerita lain ketika bertemu dan ngobrol dengan tukang becak ketika membuat mural street art/bombing di dinding daerah Tugu Pahlawan, Surabaya. Ketika itu bertemu dengan tukang becak (saya lupa namanya) berumur sekitar 60 tahun-an dan beliau bercerita mengenai hidup dan kisah asmaranya. Dari cerita tersebut banyak pelajaran dan pengalaman yang bisa saya ambil: Tentang bagaimana manusia harus berjuang menghadapi kehidupan, bagaimana memperlakukan perempuan selayaknya memperlakukan ibu sendiri. 

Hal yang utama saya senangi dalam aktifitas street art adalah bertemu dengan masyarakat (dalam) kelas menengah kebawah dimana banyak pelajaran yang bisa saya dapat dari pengalaman pengalaman mereka, dan itu kadang bisa jadi ide dan inspirasi saya dalam berkarya.

Bagaimana perkembangan seni jalanan saat ini menurut kamu?

Street art modern masuk di Indonesia sekitar tahun 2000an. Awal teman-teman dari Jogja dan Jakarta memulai melalui kelompok kelompoknya masing masing. Jakarta dengan karakteristik kotanya begitu juga Jogja dengan karakter kota nya. Di Surabaya sendiri street art modern masuk sekitar tahun 2003 dimana graffiti modern terpajang di dinding jalanan buatan dari seniman Jogja dan mulai dari situ banyak kelompok kelompok street art yang didominasi pelajar bermunculan. Waktu itu kelompok tersebut banyak membombardir dinding jalanan dengan bentuk stencil atau tagging nama nama crew mereka. Saya sendiri mulai bergerak di street art sekitar medio 2001an mengusung seni poster, stencil dan mulai mengenalkan mural di komunitas street art Surabaya sekitar tahun 2003an. Saat ini perkembangan street art di Indonesia khususnya di Surabaya semakin berkembang secara teknis visual, namun semakin jauh dari makna dan posisi street art sebenarnya. Karya pelaku-pelaku street art kini mampu menembus pasar industri dan menggebrak galeri-galeri seni ternama, namun sayangnya mereka sendiri lupa akan rootnya.

What next?

Fokus eksplorasi karya visual di berbagai media (apapun itu) dan bombing di jalanan dengan membuat karya-karya sesuai style visual saya dengan media-media yang bisa dieksplorasi seperti nisan kuburan, kayu gulungan kabel telkom, box-box listrik PLN dan media-media unik lainnya yang ada di jalanan dan keseharian. Saya menamai project ini dengan post graffiti. Project lain sesegera mungkin melanjutkan komik indie saya yang lama tidak saya kerjakan dan menerbitkan secara independen.