Antara Wibu dan Stigma Negatif di Indonesia

4 Januari 2020 | Gaya Hidup

Kamu pasti sering membaca istilah ini karena sering muncul di media sosial akhir-akhir ini atau di lingkungan sehari-hari. Jangan-jangan kamu malah ikut-ikutan pakai istilah ini tanpa mengerti artinya. Biasanya dalam media sosial, istilah ini secara tersirat terasosiasikan dengan hal-hal berbau Jepang seperti anime, manga, dan sejenisnya.

Kalau kamu beranggapan bahwa semua yang disebut sebagai Wibu adalah mereka yang menyukai anime atau manga, pendapat itu kurang tepat. Pasalnya, orang yang menggemari anime atau manga pun belum tentu termasuk kategori Wibu. Sebaliknya, mereka yang disebut Wibu sudah pasti mencintai anime atau manga.

Wibu adalah kata serapan dari Bahasa Inggris, yaitu Weeaboo. Maknanya adalah orang-orang yang sangat terobsesi pada Kebudayaan Jepang dan berperilaku seolah mereka sendiri adalah orang Jepang yang lahir dan tinggal di negara itu. Singkatnya, Weeaboo adalah orang non-Jepang yang merasa lebih Jepang dari mereka yang warga negara aslinya.

Parahnya lagi, para Weeaboo ini justru tidak menghargai kebudayaan mereka sendiri.

Dikutip dari Urban Dictionary, arti kata Weeaboo dijabarkan cukup panjang dan menyebalkan. Kira-kira begini terjemahannya:

Seseorang yang memiliki obsesi tidak sehat terhadap Jepang dan budayanya, biasanya mengabaikan atau bahkan menyembunyikan identitas ras dan budaya mereka sendiri. Kebanyakan Weeaboo bicara memakai 8 atau lebih diksi Bahasa Jepang yang mereka tahu (misalnya kawaii, desu, ni chan).

Weeaboo mengklaim bahwa mereka mencintai dan mendukung Budaya Jepang, namun tanpa sadar melakukan stereotyping Budaya Jepang berdasarkan anime favorit mereka dan justru bisa menyinggung orang-orang Jepang asli.

Jika kamu mencintai dan menghormati Budaya Jepang dan budayamu sendiri, kamu bukanlah Weeaboo. Hanya menyukai anime atau ingin belajar Bahasa Jepang tidak akan membuatmu menjadi Weeaboo.

Nicholas Gurewitch adalah sosok yang bertanggung jawab atas asal usul kata tersebut. Ia menyisipkan istilah itu dalam sebuah komiknya, Perry Bible Fellowship. Dari kata Weeaboo inilah kemudian diserap dalam pemakaian Bahasa Indonesia menjadi Wibu. Sebagai informasi tambahan, Weeaboo atau Wibu ini punya kesamaan makna dengan istilah Japanofilia.

Artinya, istilah ini dipakai sebagai ejekan bagi semua orang yang tergila-gila alias maniak ke semua hal berbau Jepang. Weeaboo akhirnya menggeser istilah Wapanese yang sebelum era 2000-an sempat populer dipakai di forum-forum online untuk tujuan sama.

Bagaimana seseorang bisa disebut sebagai Wibu? Ada sejumlah hal yang bisa dijadikan indikator untuk mengidentifikasi seorang Wibu.

Pertama, punya obsesi gila-gilaan dengan Budaya Jepang, dan seperti yang telah disinggung tadi, beranggapan bahwa Budaya Jepang yang ia cintai itu lebih mulia dan unggul dibandingkan budaya bangsanya sendiri. Untuk membuktikan hal ini, seorang Wibu bisa sampai mengenakan baju-baju khas Jepang atau yang paling tidak menyiratkan bahwa ia seorang Jepang asli.

Kedua, semua hal yang berkaitan dengan Budaya Pop Jepang disukainya, mulai dari anime, manga, tokusatsu, drama, cosplay, game, musik, film, dan sebagainya. Yah, mungkin tidak semuanya sih, tapi saat kamu berhadapan dengan seorang Wibu dan ia sedang mengoceh tentang hal-hal yang disukainya tersebut, seolah kamu sedang menyaksikan siaran berita berbahasa Planet Namex.

Ketiga, terlalu sering memakai istilah-istilah Bahasa Jepang dalam keseharian dan belum tentu penggunaannya benar dan tepat. Pokoknya asal berceloteh dan terdengar seperti Bahasa Jepang. Kamu mungkin sering berjumpa orang-orang yang memakai kata Ohayou, Gomenasai, Arigatou, dan sebagainya. Tapi bedakan juga dari mereka yang memang sedang serius belajar Bahasa Jepang.

Keempat, terkesan memiliki wawasan dan pengetahuan yang sangat luas perihal Budaya dan Bahasa Jepang, padahal referensinya dari Budaya Pop Jepang seperti anime, manga, dan sejenisnya.

Kelima, cenderung asosial, dianggap aneh oleh lingkungan terdekatnya. Kebanyakan yang disebut sebagai apa itu wibu cenderung menutup diri dari pergaulan pada umumnya dan lebih suka berada dalam kamarnya. Interaksi yang dilakukan biasanya mengikuti acara-acara festival bertemakan Jepang, menjadi cosplayer, atau semua jenis kegiatan asalkan berbau Jepang.

Keenam, gemar mengoleksi merchandise berbau hal-hal yang disukainya, dan biasanya memperlakukannya secara berlebihan, menganggapnya lebih penting dari keselamatan hidupnya dan orang lain.

Tidak ada yang salah jika kamu menggemari kebudayaan Jepang atau negara lain. Namun tempatkan semua pada porsinya. Jangan sampai menjadi seorang fanatik yang justru meremehkan orang lain, apalagi merendahkan bangsamu sendiri.