fbpx
banner

Antara Major Label, Indie Label dan Agregator Musik

1 Januari 2020 | Musik
Antara Major Label, Indie Label dan Agregator Musik

Di era yang serba digital ini sebagai musisi sudah sangat dipermudah dengan adanya berbagai platform yang ada. Hal ini tentu menjadi masalah baru ketika musisi dibingungkan harus bergabung dengan Major Label, Indie Label ataupun Agregator yang mana. Berikut penjelasan mengenai ketiga hal penting tersebut jika musikmu ingin berkembang lebih lanjut di industri.

Major Label

Biasa juga disebut dengan Perusahaan Rekaman, menurut Wikipedia, Major Label adalah perusahaan yang mengelola rekaman  dan penjualannya, termasuk promosi dan perlindungan hak cipta.

Mereka biasanya memiliki kontrak dengan artis-artis musik dan manajer mereka. Saat ini ada 4 perusahaan rekaman besar yang biasa disebut The Big Four Major Lables yang menguasai sekitar 70% pasar musik dunia, yaitu Warner Music Group, EMI, Sony BMG, dan Universal Music Group. Sedangkan di Indonesia ada E-motion Entertainment, Sony BMG, Jasa pendistribusian dari Major Label ini biasanya digunakan oleh para band/solois yang ingin menempuh jalan instan dalam memasarkan musiknya dan mendapatkan banyak penggemar.

Umumnya musisi dan penyanyi Indonesia sangat menggantungkan Major Label untuk menjadi terkenal dan sukses menjual lagu-lagunya di pasaran. Bisa dibilang Major Label adalah investor terbesar dalam dunia industri musik pada umumnya dan oleh karena itu tidaklah mudah bagi para musisi yang ingin menjual musiknya untuk diterima oleh Major Label.

Demo lagu yang dikirimkan ke Major Label yang sudah dikirim dan tentunya akan menjadi hak milik Major Label tersebut namun hanya akan diterima untuk kontrak kerja jika demo lagu tersebut sesuai dengan kriteria yang mereka tawarkan.

Dari namanya “Perusahaan Rekaman” sudah bisa ditebak kalau inti bisnisnya adalah jualan hasil rekaman dan tentunya demi alasan komersil kriteria-kriteria untuk para artis yang ditawarkan adalah harus mengikuti selera pasar yang sedang tren dalam jangka waktu tertentu karena memang tren pasar itu sifatnya dinamis.

Kesimpulannya, jika seorang artis solois/band yang sudah terikat kontrak dengan sebuah Major Label, bisa dibilang sebenarnya karirnya di dunia musik sudah terancam karena ketenaran yang sudah di depan mata akan didapatkannya secara instan pada periode tertentu dan akan menenggelamkan karir sang artis pada saat tren musik dan selera pasar sudah berubah.

Baca Juga:  Resmi! Babymetal Akan Konser Tunggal di Jakarta

Bukankah memang tidak ada yang abadi di dunia ini selain Perubahan? Dan ketika periode tenggelamnya nama sang artis tiba, sangatlah sulit untuk mengibarkannya lagi di kancah musik yang telah berganti generasi.

Mari kita ambil contoh beberapa artis yang sempat terkenal dan kita gandrungi pada saat kita masih kecil dulu. Sampai saat ini mereka masih hidup, namun karir musiknya bisa dibilang jauh dari kesuksesan mereka dulu walaupun mereka tetap eksis bermusik. Sangat sulit untuk mengembalikan atau sekedar mendekati kejayaanya seperti dulu.

Sangat ironis memang, antrian panjang untuk bisa mendapatkan kontrak dengan perusahaan rekaman yang sudah dilewati dengan mengorbankan jati diri dalam bermusik dengan merubah genre dan style, dan tentunya kerugian finansial karena harus sharing profit dengan Major Label untuk setiap hasil penjualannya (belum lagi jika ada permainan penggelapan dana didalamnya, who knows..?), harus menghasilkan karir dan kesuksesan yang tidak konsisten bahkan cenderung sangat singkat, hanya sekitar 2-3 album saja. Dikendalikan, diangkat tinggi-tinggi, lalu dibiarkan jatuh begitu saja karena sudah waktunya ‘ganti artis’.

Namun tentunya tidak semua artis yang memulai karirnya dibawah naungan Major Label bernasib nahas. Beberapa band ternama Indonesia yang cukup jeli dalam berbisnis di industri musik bisa lolos dari ‘strategi mematikan artis’ ini. Slank, Netral, Naif, Dewa, Gigi, adalah beberapa contoh band awet yang tetap populer hingga saat ini. Dan sebuah gebrakan hebat dari pendatang baru adalah Samsons. Pada awal karirnya bernaung di bawah Universal Music Indonesia bisa dengan lincah melakukan manuvernya di bisnis musik.

Mereka membiayai sendiri produksi rekamannya lalu kemudian menjalin kerja sama promosi dan distribusi dengan Major Label selanjutnya. Strategi yang hebat dan bisa ditiru jika sang musisi punya modal yang cukup banyak.

Indie Label

Pada awalnya Indie Label adalah perusahaan rekaman kecil yang didanai secara independen dan terlepas dari Major Label karena sesuai namanya Indie yang diambil dari kata independent yang berarti merdeka atau mandiri.

Namun seiring dengan berjalannya waktu yaitu sekitar tahun 90-an, perbedaan antara Major Label dengan Indie Label mulai samar. Beberapa nama Indie Label besar sebenarnya adalah perusahaan distribusi dari Major Label. Yup, money talks.

Agregator Musik

Istilah Agregator Musik ini memang terdengar cukup asing tapi sebenarnya perannya sudah banyak dirasakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya para musisi independen yang ingin mendistribusikan hasil rekamannya.

Baca Juga:  Menutup Tahun 2019, LKTDOV Gelar Showcase Perayaan Hari Jadi ke Sebelas

Persyaratan untuk bergabung juga cukup ringan dan tanpa campur tangan dalam hal manajemen dan urusan dapur lainnya memberikan angin segar bagi para musisi. Para artis cukup mempersiapkan hasil karyanya lalu menyetujui kontrak jasa distribusi yang mereka tawarkan.

Ada yang menawarkan sistem sharing profit atau bagi hasil yang angkanya berkisar mulai dari 50%-50% sampai dengan 15%-85%. Ada juga yang menawarkan sistem distribution fee, yaitu sejumlah fee yang harus dibayarkan oleh musisi kepada Agregator Musik untuk mendistribusikan konten musiknya ke seluruh toko musik digital di dunia.

Oleh karena itu sesuai dengan perannya ini Agregator Musik bisa juga disebut sebagai Distributor Musik. Namun perlu diingat bahwa kita juga tidak boleh gegabah dalam memilih Agregator Musik sebagai mitra kerja kita. Luangkan beberapa waktu untuk mempelajari baik-baik sistem kontraknya masing-masing. Bandingkan antara satu Agregator Musik dengan yang lainnya untuk mencari mana yang lebih cocok untuk kita jadikan partner.

Karena yang dinamakan Independen dalam arti yang sebenarnya adalah kita menggantungkan karir musik kita ditangan kita sendiri. Jika kedepannya ada masalah karena kita salah memilih partner kerja, lebih baik segera introspeksi diri baru mengambil langkah untuk menemukan solusinya. Jangan sampai terbalik.

Berikut beberapa hal yang harus dipastikan/ditanyakan kepada Label ataupun Agregator sebelum kita menandatangani kontrak perjanjian kerja dengan mereka:

  • Apakah perjanjian yang ditawarkan sudah termasuk publikasi atau promosi untuk sang artis/band? Jika iya, berapa lama jangka waktu yang ditawarkan.
  • Apakah ada biaya lain yang harus dibayar? Atau berapa total nominal uang yang harus kita bayar jika kita mengambil penawaran tersebut (rincian semua penawaran).
  • Berapa perincian royalti untuk setiap penjualan yang akan terjadi dan bagaimana sistem pembayarannya?
  • Bisakah kami mendapatkan perkiraan profit dari metode distribusi yang mereka tawarkan?
  • Apa hak-hak kami jika kontrak kami hentikan?
  • Apakah ada potongan pajak dari profit nett yang akan saya terima nantinya? Jika iya, berapa potongannya?