fbpx
banner

ACUVUE® OASYS with TransitionsTM, Lensa Kontak Pertama Yang Beradaptasi dengan Cahaya

27 Desember 2019 | Gaya Hidup

Berdasarkan data survei Johnson & Johnson Indonesia di tahun 2019 , 97% masyarakat Indonesia merasa terganggu dengan cahaya berlebihan dan menyilaukan dalam aktivitas sehari-hari seperti saat dalam perjalanan, berolahraga di luar ruangan, serta kegiatan di tempat terbuka lainnya. Hal ini juga tidak lepas dari kondisi geografis Indonesia sebagai negara tropis dengan intensitas sinar matahari yang tinggi. Aktivitas dalam ruangan seperti menonton televisi dan penggunaan gawai secara aktif juga dapat berdampak pada paparan cahaya biru yang berlebihan, ditambah lagi dengan jumlah pengguna internet aktif di Indonesia mencapai 150 juta orang atau yang mewakili lebih dari setengah populasi. Sekitar 80% dari responden survei perusahaan mengatakan bahwa mereka sering menyipitkan mata dan 73% bahkan merasa terganggu atau kehilangan fokus akibat cahaya yang menyilaukan tersebut.

Selain itu, paparan sinar UVA, UVB dan sinar biru yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada mata. Paparan sinar radiasi UVA dan UVB yang berlebihan juga dikaitkan dengan sejumlah masalah mata, misalnya seperti pinguecula, pterygium atau pertumbuhan pada lapisan luar (bagian putih mata), dan corneal sunburn (photokeratitis). Paparan sinar biru 4 yang berlebihan juga dapat menyebabkan mata lelah, digital eye strain (ketegangan mata akibat teknologi digital) dan computer vision syndrome (CVS). Namun demikian, kesadaran 5 masyarakat akan risiko bahaya sinar UVA, UVB, dan sinar biru masih sangat rendah, dan informasi yang disampaikan terkait hal ini juga relatif masih sedikit. Hal inilah yang menjadikan sebagian besar masyarakat Indonesia kurang memahami pentingnya penggunaan alat pendukung penglihatan yang adaptif terhadap cahaya, padahal ini akan sangat mempengaruhi kenyamanan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. 

Inilah yang melatarbelakangi PT Johnson & Johnson Indonesia meluncurkan inovasi terbarunya yaitu ACUVUE® OASYS with TransitionsTM, sebuah lensa kontak yang dapat beradaptasi pada cahaya (photochromic) pertama di dunia. Dikembangkan melalui penelitian mendalam selama lebih dari 10 tahun, ACUVUE® OASYS with TransitionsTM hadir untuk menciptakan transformasi kesehatan mata masyarakat Indonesia yang lebih baik. ACUVUE® OASYS dengan TransitionsTM merupakan lensa kontak reusable (dapat digunakan berulangkali) dengan periode pemakaian dua minggu dan merupakan satu-satunya lensa kontak yang memberikan perlindungan 100% terhadap sinar UVB. Produk ini secara khusus dirancang untuk membantu mata menyesuaikan diri dengan lebih baik terhadap perubahan cahaya dan kondisi lingkungan, serta meminimalkan perubahan tampilan pada mata pada saat saat terkena sinar UV atau HEV (High-Energy Visible). Selain itu, lensa kontak ini dilengkapi dengan Transitions Light Intelligent Technology yang memungkinkan lensa beradaptasi saat terkena cahaya yang terlalu terang menjadi sedikit agak gelap hanya dalam waktu 45 detik – dan kembali lagi seperti kondisi semula dalam waktu 90 detik dari luar ruangan ke dalam ruangan. Pada aktivasi penuh, lensa menghalangi hingga 70% cahaya yang terpapar.

Baca Juga:  Facebook Cafe Akan Segera Hadir di Jakarta

Inovasi ini lahir dari penelitian dan pengembangan yang mendalam mengenai cahaya yang mengganggu, termasuk uji klinis dengan lebih dari 1.000 pasien. Shirley Loh, Associate Director of Professional Affairs, Johnson & Johnson Vision Care SEA mengungkapkan, “Dengan lebih dari 10 tahun penelitian dan pengembangan yang kami lakukan dan juga telah diakui Majalah TIME sebagai salah satu Best Inventions di tahun 2018, kami mengerahkan yang terbaik untuk menciptakan produk yang tidak hanya sekedar lensa kontak biasa, namun lebih daripada itu.”