fbpx
banner

365 Dni, Fifty Shades Of Grey Ala Polandia

21 Juni 2020 | Film
365 Dni

365 Dni (Days, dalam bahasa Polandia-red) bisa dibilang merupakan jawaban Polandia terhadap seri Fifty Shades of Grey, trilogi drama erotis yang kisahnya diadaptasi dari rangkaian novel berjudul sama karangan EL James. 365 Dni selain memiliki muatan yang kurang lebih sama, juga merupakan hasil adaptasi novel berjudul sama karangan Blanka Lipinska. Film ini disutradarai oleh sineas wanita Barbara Bialowas.

Anastasia Steele dalam 365 Dni adalah direktur pemasaran sukses bernama Laura yang diperankan oleh Anna Maria Sieklucka. Sementara, Mr.Greynya adalah Mossimo Torricelli (Michele Morrone), bos mafia muda yang menggantikan posisi ayahnya yang tewas terbunuh.

Saat berlibur ke Sisilia, Laura mengalami nasib yang tidak pernah ia antisipasi sebelumnya. Ia menjadi korban penculikan Mossimo Toricelli, salah satu bos mafia yang berkuasa di Sisilia. Disekap, Mossimo mengatakan bahwa Laura tidak bisa kabur dan mempunyai batas waktu 365 hari untuk jatuh cinta kepadanya. Bahkan, untuk memastikan hal itu, Mossimo melakukan pelbagai cara untuk bisa menaklukkan buruannya itu. Dari menggelimanginya dengan kemewahan hingga menempuh jalan kekerasan.

Sudah tentu Laura awalnya melakukan perlawanan atas cara-cara Mossimo untuk mendominasinya. Akan tetapi, seiring waktu kebersamaan mereka, intensitas dan gairah seksual keduanya akhirnya mencapai puncaknya. Mossimo dan Laura mulai menapaki rute baru hubungan mereka.

365 Dni menempatkan seks di garis depan. Ada rasa yang mengesankan dari kerinduan untuk membangun penumpukan seksual yang berlebihan – dengan daya tarik seks gaya buldoser yang mengingatkan pada film-film drama erotis masterpiece era 90-an seperti Basic Instinct, The Color of Night, Showgirls, dan Striptease. Ini dipasangkan dengan akting ‘mentah’ Anna Maria Sieklucka – meskipun aktris itu menunjukkan keberanian tampil polos yang diharapkan darinya di sini – yang mengakibatkan seringnya muncul adegan bermuatan seksual berlebihan yang tidak disengaja.

Baca Juga:  1917, Film Perang Yang Memenangkan Golden Globe

Memadukan plot cerita yang notabene sederhana, serta  muatan adegan-adegan panas eksplisit yang mungkin mengundang birahi, hasilnya adalah sesuatu yang cukup mengejutkan – mengasyikkan luar biasa, sarat adegan erotis, kemerosotan seksual yang bak tak terkendali berpadu dengan melodrama yang berlebihan. Balutan soundtracknya yang berisikan banyak tembang pop kontemporer juga mampu menambah nyawa adegan-adegan yang ada di film ini.

Formula seperti ini notabene  adalah paradoks yang saling bertentangan – paradoks yang mengasyikkan dari segi tontonan, tetapi dari sudut pandang sinematik sering kali menjadi bahan cercaan dan dieksekusi secara buruk – namun dalam beberapa kasus justru hal-hal itulah yang makin menambah daya tariknya. Dan, itulah impresi yang didapat dari film ini.

Jualan utamanya mudah ditebak adalah interaksi panas antara dua pemain utamanya, yang memang terlihat indah saat tampil telanjang dan mampu menciptakan chemistry yang membuat filmnya enak ditonton, meski durasi filmnya yang mencapai kisaran dua jam terbilang panjang. Dan, untuk hal ini mereka berhasil.

365 Dni

Seperti sudah ditekankan sebelumnya, jika secara kualitas penceritaan 365 Dni bukanlah salah satu dari kekuatan yang dimilikinya. Malah harus diakui, narasi yang dikedepankan dalam film ini berikut putaran kisahnya kadang seperti dibesut secara tergesa-gesa. Meski, terkesan tetap berusaha fokus pada pengembangan cerita yang pada faktanya setengah matang seraya memberi bobot-bobot tertentu di beberapa adegannya, yang notabene tidak terlalu penting.

Baca Juga:  Tom Hanks Terinfeksi Corona Saat Syuting di Australia

Pun demikian dengan segi perwatakannya, di mana dimensi karakter-karakter yang ada di film ini umumnya cenderung dangkal dan tidak tereksplor dengan baik. Namun, secara performa, dua bintang utamanya mampu menyuguhkan performa yang tidak mengecewakan, meski tidak bisa dikesampingkan juga hal itu terutama sangat ditunjang dengan penampilan fisik mereka.

Dalam mengarahkannya, layaknya kebanyakan produksi film Eropa yang lebih longgar dalam menyuguhkan muatan seksual ketimbang produksi Hollywood, Bialowas juga menghadirkannya lumayan mentah dan memberikan sajian erotisme dengan kadar yang terhitung tinggi.

Dengan plus –minusnya tersebut, tidak bisa dipungkiri fakta bahwa sajian 365 Dni adalah jenis film yang dicari oleh banyak kalangan penikmat film. Film ini liar, sangat sensual hingga menjurus ekstrem, durasinya panjang, tidak peduli dengan suguhan perkembangan narasinya yang kurang masuk akal, dan sangat terfokus pada adegan-adegan panas yang dipertontonkan oleh dua bintang utamanya secara antusias di semua kesempatan yang memungkinkan.

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa ada pangsa pasar untuk sajian semacam ini. Dan, berhubungan dengan adegan klimaks di pengujung filmnya, serta fakta bahwa masih ada dua novel kisah lanjutannya, rasanya banyak penonton film ini yang akan menantikan kehadiran sekuelnya.